Mereka datang dengan pakaian serba hitam dan membawa lilin, menanggalkan atribut kebanggaan, menghormati rekan-rekan dari Arema FC yang sedang berduka. Memanjatkan doa bagi korban Tragedi Kanjuruhan berserta keluarga yang ditinggalkan.
"Arema, Arema, Arema, kita disini, Arema."
Hanya chant itu yang terus menggema. Mengangkat lilin di tangan setinggi-tingginya, dengan meneriakkan AREMA sekencang-kencangnya. Seakan seluruh rivalitas hilang. Adu chant, adu atribut, adu mulut demi mendukung tim kebanggaan yang biasanya terjadi saat laga berlangsung, seketika sirna.
BACA JUGA:Soroti Tragedi Kanjuruhan, Bintang Emon Sentil Aparat dan Pejabat
Mungkin 1 Oktober akan selalu diingat sebagai hari kelam, hari dimana sejarah baru yang begitu buruk tercipta. Tapi satu yang pasti dan terkenang di hati bahwa kalimat "Tak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa", "Tak ada sepakbola seharga nyawa" terus terpatri karena itu harga mati.
(Dyah Ratna Meta Novia)