PSIKOLOG Sosial Ade Iva Wicaksono menyebutkan, kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, kasusnya mirip seperti investasi bodong. Sebab, para pengikutnya harus rela memberikan uang demi keberlangsungan kerajaan halusinasi tersebut.
Dia membeberkan bagaimana bisa 450 korban dapat masuk dalam tipu daya Raja dan Ratu Sejagat Purworejo. Bahkan, beberapa dari korban Keraton Agung Sejagat tersebut rela memberikan uang mulai dari Rp3 juta untuk keberlangsungan kerajaan halusinasi tersebut.
"Bagi saya, hal tak kalah penting yang mesti disorot adalah kerajaan Keraton Agung Sejagat halusinasi ini tidak jauh beda dengan investasi bodong. Tapi mereka memanfaatkan kultur budaya untuk mendapatkan kepercayaan," kata psikolog yang akrab disapa Iva, saat dihubungi Okezone, baru-baru ini.
Menurut Iva, kasus Kerajaan Agung Sejagat ini seharusnya mendapat perhatian khusus. Bagaimana bisa masyarakat di sana dengan tangan terbuka, memberikan sejumlah uang.
Bicara mengenai kepercayaan, sambung Iva, dalam melihat aspek platform economic digital or online, Raja dan Ratu Kerajaan Agung Sejagat Purworejo itu melihat kesempatan kepercayaan masyarakat setempat terhadap leluhur. Pelaku merasa bahwa kultur lingkungan tersebut dapat dimanfaatkan.
Makanya, Iva juga cukup yakin bahwa Raja dan Ratu Sejagat Purworejo itu sebelumnya melakukan survei. Bisa dibilang juga melakukan riset kecil-kecilan untuk mengenal kultur di sana seperti apa. Sebab, mereka tahu dan juga nekat mengajak investasi.
"Pada akhirnya, Raja dan Ratu Sejagat Purworejo kerajaan halusinasi hanya ingin mengeruk keuntungan dari para korban, dengan mengandalkan kepercayaan yang begitu kuat dimiliki warga sekitar kerajaan. Ujung-ujungnya mau meras para korban tapi dikemas dengan bumbu budaya," tegasnya.
(Dewi Kurniasari)