Ia bersama teman-temannya diingatkan oleh warga agar membunyikan klakson kendaraan saat melewati tikungan tersebut. Hanya saja ketika itu Fero dan teman-temannya masih berpikir rasional. Dua hari berselang, ada kelompok yang ditugaskan untuk ikut rapat warga. Kebetulan rapatnya diadakan malam hari dan untuk menuju tempat rapat itu harus melewati tikungan tersebut.
“Pas berangkat, kelompok itu tidak mengalami apa-apa pas di perjalanan. Selesai rapat menjelang tengah malam dan waktu itu turun rintik hujan. Mereka sudah diingatkan untuk hati-hati, jangan macam-macam,” ucap Fero.
Ada satu orang bernama Mia yang sejak awal tiba di desa seringkali berbicara dengan nada cukup nyaring. Saat pulang, dia mengalami kejadian tidak mengenakkan. Tiba-tiba motor yang dikendarainya mengalami kecelakaan. Mia hampir jatuh ke jurang, sementara teman yang diboncengnya mengalami luka penuh darah.
“Ternyata Mia dan temannya yang namanya Dina berisik sepanjang jalan. Ketika mau lewat tikungan, mereka memutuskan untuk menyanyikan lagu rohani karena merasa merinding. Setelah lagu selesai, Mia merasa menabrak seseorang yang gede banget sehingga motornya jatuh,” terang Fero.
Pada saat bersamaan, mahasiswa lain yang mengendarai motor tepat di belakang Mia mendengar suara orang banyak yang sedang tertawa. Padahal tempat itu sepi, tidak ada orang sama sekali, dan sekelilingnya adalah hutan. Kemudian Mia dan Dina langsung dibawa ke Puskesmas 24 jam yang lokasinya cukup jauh. Mereka diantar oleh warga sekitar.
“Pas Mia dibawa ke Puskesmas, induk semang tempat kami tinggal langsung bikin upacara-upacara gitu. Ia bersama anak-anaknya sembahyang, menyalakan dupa, memutari rumah dan menaruh sesajen yang berisi telur serta bunga-bunga. Aku tanya kenapa harus begitu, katanya untuk mengusir setan yang terbawa dari jembatan,” jelas Fero.
Keesokan harinya induk semang mengatakan bila baju Mia saat jatuh harus dibuang ke tempatnya mengalami kecelakaan. Selain itu, akibat kecelakaan itu mulut Mia harus dijahit karena robek dan tidak bisa berbicara untuk sementara waktu. Warga sekitar mengingatkan mungkin ia terlalu berisik ketika sampai sehingga makhluk lain yang ada di desa tidak senang.