Kejadian mistis itu dimulai
Pada hari pertama tiba, kampus menurunkan kami di kediaman Bu Lurah (kebetulan lurahnya perempuan). Selain untuk formalitas, di sanalah kami makan siang dan akan diantar ke rumah yang nantinya ditinggali selama sebulan. Saat berada di depan rumah, seorang teman perempuan berhenti berjalan dan terdiam. Dia terlihat mengatakan sesuatu.
"Ada yang nggak beres sama rumahnya," kata Dewi (sebut saja begitu). Tetapi, dia tidak melanjutkan atau menjelaskan maksud dari ucapannya.
Selesai makan siang, kami diantar ke rumah tinggal. Ada dua rumah tinggal yang lokasinya hanya berjarak tiga rumah, masing-masing untuk anak-anak perempuan dan laki-laki. Untuk sampai ke rumah tinggal, kami sedikitnya berjalan kurang dari 15 menit melewati jalan kampung.
Tidak ada sesuatu yang menyeramkan dari rumah yang akan kami tempati. Rumah anak-anak perempuan masih baru, tapi kosong. Selidik punya selidik, rumah ini dimiliki kerabat Bu Lurah.
Sedangkan rumah yang ditinggali anak laki-laki, sejak masa survei, memang menyeramkan. Sebuh rumah tua yang bertahun-tahun dibiarkan kosong oleh yang punya, Bu Lurah.
Malam pada hari pertama, koordinator desa (ketua kelompok KKN kami, sebut saja Ares), terlihat tidak biasa. Saat di depan kamar kecil untuk menunggu giliran mandi, dia tampak diam.
Pelan-pelan dia mendesis. Menjulur-julurkan lidahnya. Kedua tangannya ditangkupkan di atas kepala, meliuk-liuk. Menirukan gerakan ular, tangan, tubuh, dan lidahnya digoyangkan. Asti (nama samaran) yang tak lain adalah sekretaris kelompok, yang menyadari untuk pertama kali. Ares kesurupan!
Sekejap, rumah jadi riuh. Beberapa teman menuntun Ares ke ruang tamu yang lebih luas. Beberapa teman lain mulai membacakan mantra dan surat pendek yang dihapal.
Sekitar pukul 10 malam, suasana semakin mencekam. Entah bagaimana, seolah alam juga ikut menyambut kedatangan kami. Tiba-tiba, kami merasa tidak diharapkan dan diberi peringatan karena angin bertiup sangat kencang. Anjing-anjing juga menyalak bersahut-sahutan.
Belum lagi sapi-sapi di kandang yang berada di hampir semua rumah juga melenguh seperti sahut-sahutan dengan suara seperti ketakutan. Kombinasi angin kencang dan suara binatang-binatang itu menjadi latar belakang yang amat mencekam.
Ares pun semakin terlihat garang. Tidak hanya mendesis, kadang dia berubah menggeram sambil merangkak menirukan seekor harimau. Teman perempuan yang sempat tertegun di depan rumah lurah bilang, "Here we go ...."
Sementara kurang dari 10 orang di ruang tamu, sisanya ada yang memilih diam di kamar. Sebabnya dua, takut dengan suasana yang cukup mencekam atau ngantuk dan capek.
Karena merasa masalah itu tidak ditangani dengan benar, beberapa orang mengusulkan untuk memanggil ustadz atau lapor pada pengawas program (dari kampus).
Tetapi teman-teman Ares menolak. Mereka takut kejadian itu bocor dan membuat kelompok kami kena masalah dan dibatalkan melanjutkan KKN. Akhirnya, semua sepakat tidak melaporkan pada siapa-siapa.
Menjelang jam 12 malam, akhirnya Ares mulai tenang. Semua bersepakat untuk membiarkan Ares tidur di ruang tamu rumah yang ditempati anak-anak perempuan (meski sebagian dari perempuan merasa berat hati karena membiarkan laki-laki tidur di tempat perempuan).
Sementara, sebagian besar anak laki-laki, terutama yang tidak dekat dengan Ares, balik ke rumah kedua, rumah tua Bu lurah. Begitu saja kami menghabiskan malam pertama di tempat KKN.