"Tahun ini benar-benar aku akan raise money akan warehouse sale barang-barang yang sudah lama, kita nggak akan ambil komisi sama sekali, kami hanya akan pure sale dan uang akan kita donasikan." jelas Janice.
Janice Winata selaku co-founder HuntStreet mengakui kesulitan merintis platform ini. Bukan tanpa alasan, karena menurutnya HuntStreet menjadi salah satu yang pertama untuk mendorong resale movement.
"Karena secondhand di Indonesia masih ada sedikit tabu. Kita bilang bahwa itu normal, smart, eco-friendly untuk melakukan ini. Nggak usah gengsi-gengsi, orang pintar pasti mau resale goods mereka untuk value yang lebih baik dan bisa investasi lagi uangnya," katanya.
Menurutnya, berbeda dengan Amerika Serikat atau Jepang yang sangat mudah menerima resale movement. "Kita lihat di Indonesia belakangan ini sudah lebih orang sudah nyaman dengan pre-owned, jual barang mereka, beli barang pre-owned. Kita melihat resale movement tambah lama, tambah bisa diterima di sini," lanjut Janice.
Sementara itu, tak hanya brand luar, tetapi HuntStreet juga menerima barang mewah dan luxury dari desainer ternama Tanah Air. "Kami mengambil lokal produk seperti Biyan, Peggy Hartanto, Toton, Sapto Djoko Kartiko, luxury local desainers kita terima juga," ungkapnya.
(Renny Sundayani)