Selang beberapa detik, Furi kembali memblakangi kamera, dia pun seakan menyapa kepala yang ingin ikut tampil itu. "Oke kamu ada, tapi nanti ya ceritanya," katanya berbincang dengan kepala tersebut.
Setelah mengambil nafas, Furi pun kembali melanjutkan kisah pembangunan jembatan tersebut. "Jadi setelah membangun ternyata dia tidak dipulangkan ke Belanda, tapi malah ditembak oleh dua tentara Jepang di hari Kamis jam 11 siang," jelas Furi.
"Jadi kalau kamu mau ke sini, merasakan energi yang ada di sini, energinya sangat besar, sangat ramai, tapi energi itu akan tergantung niat sendiri. Kalau memang baik, mau dengar cerita dan kita kasih koin, Insya Alllah mereka akan sangat open," katanya.
Furi diam sejenak, lalu melanjutkan ceritanya. Saya pikir Furi akan menceritakan kisah lanjutan Stefanus, tapi dia malah membahas tentang kepala menggelinding barusan. "Kepala itu namanya Mamat. Dia sampai sekarang masih mencari badannya ada di mana. Tapi saya bilang itu pekerjaan yang sangat sulit dilakukan, jadi Mamat yang mengganggu kita yang ada di sini, silahkan kalau mau cerita," kata Furi.
Namun, Furi tampak mengunrungkan niatnya, wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman. "Mamat itu agak serem. Jadi saya enggak terlalu nyaman juga ngelihatnya. Ok Mat, kamu di belakang saya saja Mat," kata Furi sambil membuat gestur menyuruh pindah dengan tangannya.
"Dia bilang dia dibunuh, dipotong-potong, gara-gara dia berselingkuh. Dia dibunuh oleh selingkuhan istrinya dan dia dibunuh, beritanya ada di koran, dan mayatnya ditemukan di sini. Kita cek lah nanti kebenaran ceritanya dia."
"Yang jelas dia mau bilang ke keluarganya. Keluarganya ada di Purwakarta, rumahnya ada pager warna cokelat, ada tulisan 11, nomor 11 mungkin ya. Trus dia mau bilang sama keluarganya kalau Mamat itu minta didoakan. Karena mungkin keluarganya terlalu sedih, dia perlu didoakan," tutur Furi.
Furi mulai bergerak, kami pun mengikuti, suasana kembali menjadi dingin, berbeda rasanya ketika dia bercerita tentang Stefanus. Atau mungkin karena ada gangguan lain selain Mamat? (bersambung)
(Martin Bagya Kertiyasa)