Menguak Misteri Jembatan Panus Depok, Serangan Hantu Kepala Buntung (2)

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Kamis 21 Maret 2019 23:11 WIB
Jembatan Panus Depok. (Foto: Okezone)
Share :

ANGIN malam yang dingin nampaknya sudah tidak lagi bisa mengalihkan perhatian saya dari Furi Harun, perempuan indigo yang tengah bertemu Stefanus si hantu pembuat jembatan. Stefanus merupakan pria Belanda yang digambarkan memiliki tinggi badan 189 cm dengan perkiraan umur 43 tahun.

Sambil berbincang dengan kami, matanya tetap memandang tajam ke arah sebuah pohon tinggi di sisi jembatan, tempat Stefanus biasa berdiam. Menurut Furi, Stefanus datang bersama dengan anjing kesayangnya. Furi pun tidak sendiri, di lengan kirinya boneka chika, yang merupakan boneka kuman thong, setia menemani dia.

"Terima kasih," kata Furi mengambil nafas, lalu melanjutkan "Dia mengucapkan terima kasih karena akhirnya ada yang datang untuk menyampaikan cerita yang real tentang dia. Enggak membuat keributan, sehingga energi negatif lain menyingkir," ucap Furi tanpa melepaskan tatapannya.

Furi kembali menjelaskan, anjing putih kesayangan Stefanus itu menjemput ajal 6 jam setelah Stefanus ditembak, tetapi penyebab kematiannya berbeda dengan Stefanus. Furi pun diam sejenak. "Namanya Heli anjing putihnya," jelas Furi.

Baca Juga: Cerita Penumpang Ojol Pria jika Dapat Driver Wanita, Pernah Ngalamin Gak?

Tapi, yang membuat Stefanus sendiri bingung adalah kenapa istrinya ikut bunuh diri dua hari setelah dia meninggal. Meski begitu, dia tidak menyalahkan siapa pun, menurut Furi, Stefanus percaya bahwa yang menimpa mereka adalah nasib yang harus mereka jalani. Saat ini, mereka pun tetap betah berada di jembatan tersebut.

Tapi, lanjut Furi, Stefanus mengungkapkan kekesalannya pada orang-orang yang kerap membuang kelapa, karena itu akhirnya menjadi energi yang negatif. Saya tak ingat sejak kapan menahan nafas, saya terlalu fokus mendengar cerita Furi, yang tak pernah melepaskan pandangannya dari arah pohon.

Tapi kalimat selanjutnya kembali memaksa saya menahan nafas. Furi bercerita bahwa ada peristiwa mutilasi tujuh tahun yang lalu ada yang dimutilasi dan dibuang di sini. Saya pun berusaha mengali-gali ingatan saya pada peristiwa 7 tahun lalu.

Ya, di 2012 memang sempat ada dua orang berbaju hitam membuang karung goni, dari karung tersebut menetes bercak darah yang tersisa di jalanan dan pagar jembatan. Memang pada akhirnya polisi tidak pernah menemukan isi karung tersebut karena hilang dibawa derasnya arus. Tapi, penelitian uji laboratorium menunjukkan bahwa bercak darah tersebut adalah darah manusia.

Rasanya ingin saya nimbrung omongan tersebut dan bertanya soal korban mutilasi tersebut. Tapi tenggorokan saya terasa tercekat, dan membuat saya hanya menggumam sendiri saja. Padahal, menurut Furi banyak "warga" di situ tidak pernah menggangu sekitarnya, mereka hanya tinggal di sana.

Baca Juga: Sifat Selingkuh Keturunan dari Orang Tua? Ini Jawaban Pakar

Lantas, siapa warga itu? Sekali lagi.. tanpa perlu saya bertanya, Furi nampaknya bisa membaca pikiran saya. Warga di sana adalah mereka yang meninggal saat membangun jembatan tersebut. Menurut Stefanus, jembatan itu memang dibuat untuk masyarakat Indonesia, hanya saja peralatan yang belum memadai membuat potensi kecelakaan kerja meningkat.

"Itu membuat banyak sekali rakyat yang meninggal karena memikul barang terlalu berat. Seperti ngambil batu, sehingga leher hampir putus," ucap Furi seperti mengulang pesan Stefanus.

Bagimana tidak, jembatan tersebut ternyata hanya dibuat dari media putih telur dan tanah. Menitip uang berkutang, menitip kata bertambah, mungkin inilah yang terjadi pada kisah jembatan Panus. Rumor yang beredar malah pembangunan Jembatan Panus harus menumbalkan kepala.

Dengan tenang Furi pun terus mengisahkan alasan stefanus masih menjaga tempat ini, tidak lain karena dia sangat berterima kasih pada rakyat zaman dulu yang sudah membantu membangun jembatan ini. Sayangnya, rumor yang melekat di Jembatan Panus ini seakan negatif karena banyak kejadian bunuh diri dan pembunuhan yang akhirnya mengotori jembatan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya