Jadi, sambung dia, ada sensasinya tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Mereka merasa seolah-olah berada di Indonesia dan baru ketemu bakso rasa Indonesia ketika mencicipi bakso khas Cahya. Karena Cahya menggunakan bahan yang asli dari Indonesia.
"Saya pakai bahan-bahan semuanya asli Indonesia. Jadi ya rasa Indonesia. Kalau saya pulang ke Pontianak, saya sekalian beli bahan-bahan bakso. Olahnya di Kuching," tuturnya.
Saat disuguhkan, menurut Cahya, banyak pengunjung kantinnya yang berpikir tidak bakal bisa menghabiskan bakso dengan bentuk sebesar itu. Namun setelah dicicipi, akhirnya ludes tak bersisa.
"Mereka banyak yang penasaran. Begitu di hadapan, tak bersisa dan pada mengaku puas. Karena bakso saya ini beda. Di dalamnya ada sepuluh cabe rawit dan delapan bulatan bakso kecil. Pedesnya enak banget," ujarnya.
Umumnya, olahan daging berbentuk bulat ini dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka. Dalam penyajiannya, bakso disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi kuning, bihun, taoge, dan tahu. Terkadang dicampur juga telur dan ditaburi bawang goreng dan seledri.
Namun khusus khas Cahya, bakso beranaknya hanya disajikan dengan bulatan bakso dan sayur. Tanpa mi kuning, bihun, taoge, dan tahu. "Saya saat ini sedang mengembangkan usaha bakso beranak. Semoga lancar, semoga kuliner khas Tanah Air mendunia," pungkasnya.
(Utami Evi Riyani)