MIE asin, menjadi salah satu makanan istimewa dalam setiap perayaan bagi warga Tionghoa. Seperti di saat perayaan ulang tahun dan Imlek. Bahkan, mie yang juga dikenal dengan nama Mie Sua ini dipercayai sebagian warga Tionghoa bisa memperpanjang umur.
Belum lama ini, Okezone mendatangi rumah produksi mie milik Sunyoto Tejo alias The Ngk Cun di Jalan Diponegoro, Pontianak Kota, Kalimantan Barat, untuk melihat langsung proses pembuatan.
Kala itu, Sunyoto tengah sibuk mengolah adonan tepung menggunakan alat tradisional yang mereka sebut alu (kayu berbentuk bulat panjang) sebagai alat penggilas. Ia dibantu beberapa keluarganya.
Pembuatan mie asin ini, sama dengan mie-mie lainnya yang melalui proses cukup panjang. Pertama, membuat adonan mie yang terdiri dari tiga macam bahan dasar, tepung, air dan garam. Setelah jadi, adonan digilas menggunakan kayu berbentuk bulat panjang menjadi bantalan-bantalan yang kemudian dipotong-potong sesuai ukuran.
Proses selanjutnya, dimasukkan ke dalam mesin penggiling agar mendapatkan hasil yang sama ukuran tipisnya. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam mesin pengiris. "Mesin inilah yang mengubah bentuk adonan yang semula berbentuk gulungan tipis, menjadi helai-helai mie," jelas Acun.
Setelah berbentuk helai, lanjut lelaki 60 tahun yang akrab disapa Acun ini, mie dijemur di bawah terik matahari selama satu hingga dua jam. Waktu yang diperlukan pada saat menjemur tergantung pada cuaca. Semakin cerah atau panas, semakin cepat proses penjemuran.
Setelah kering, helai demi helai mie dikukus dalam wadah khusus yang terbuat dari kayu selama kurang lebih satu jam. Kemudian mie-mie itu didinginkan selama beberapa menit, lalu diikat, dimasukkan ke dalam kemasan plastik dan siap dijual. "Mie asin di sini hanya bisa bertahan satu minggu. Karena tidak ada bahan pengawet," tutur Acun.
Acun sudah puluhan tahun menggeluti bisnis pembuatan mie asin. Ia merupakan generasi ketiga penerus usaha keluarga yang dirintis oleh kakeknya, Bun Heng, perantau dari negeri Tiongkok. Saat ini, Acun dibantu istrinya, Reni Julianti dan dua anak serta beberapa karyawan untuk meneruskan dan menghidupkan usaha warisan leluhur itu.
Sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda
Secara detail, Acun tidak mengetahui persis, kapan usaha pembuat mie asin itu mulai berjalan. Ia hanya mengetahui cerita dari orangtuanya bahwa usaha ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Sejak berdiri, rumah produksi mie asin ini telah tiga kali berpindah tempat. Namun semua lokasi masih berada di Jalan Diponegoro. Saat itu belum sepadat sekarang. Belum ada deretan ruko dan pusat perbelanjaan.
Dalam sehari, mulai pagi hingga menjelang siang, mereka hanya mampu memproduksi rata-rata 2-3 sak tepung terigu. “Kami tak bisa buat mie asin banyak-banyak. Karena pengerjaannya masih tradisional. Rata-rata 30 kilogram perhari,” kata Acun.
Bahkan Acun terpaksa menolak pesanan yang melimpah. "Kalau banyak pesanan, kami tidak bisa memenuhi," ucapnya.
Untuk harga, satu kilogram mie asin dijual Rp30 ribu. Sedangkan wilayah pemasarannya, Acun tidak pernah menjual eceran ke pasar. Melainkan, konsumen datang sendiri ke rumah produksi miliknya. "Pembeli yang ke sini," tuturnya.
Untuk perayaan hari besar, mie asin cukup minati. Bahkan kata Acun, mie ini menjadi menu favorit dan istimewa dalam sebuah perayaan tertentu.
“Kalau hari besar, seperti Imlek memang banyak pesanan. Biasanya mie ini disajikan untuk makan keluarga. Orang Cin (Cina/Tionghoa) percaya, mie asin bisa memperpanjang umur,” tutup Acun, didampingi Hendi (28), anak sulungnya.