Magnificent Harry Darsono

, Jurnalis
Sabtu 21 Juni 2008 12:15 WIB
Koleksi Harry Darsono (Foto: Tuty Ocktaviany/Okezone)
Share :

BERTEMU dengan seorang tokoh karismatik seperti Harry Darsono adalah pengalaman seru. Seorang anak indigo yang merancang busana Lady Diana.

Dr Harry Darsono PhD lahir di Surabaya 15 Maret 1950. Anak lelaki ini tumbuh berbeda dari anak umumnya. Pada usia sembilan tahun, Harry dimasukkan ke sekolah bisu dan tuli. "Saya teridentifikasi ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), anak yang hiperaktif, disorder, sangat mengganggu," ujar Harry saat berbincang di Museum Harry Darsono, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sebagai media komunikasi, dia memilih gambar. Setiap keinginan, ide, tertuang dalam bentuk grafis. Harry muda sangat cepat dalam menggambar. "Kalau bisu, ngomong-nya pakai gambar karena mereka malas nunggu, saya belajar gambar cepat," cerita Harry. Termasuk menggambar sketsa muka Museum Harry Darsono. Hanya dibutuhkan waktu dua setengah menit. Waktu yang relatif singkat untuk detail rumit bangunan berkonsep Barroque tersebut.

Pada usia sembilan tahun Harry dikirim ke Paris. Dia tinggal di sana kurang lebih empat belas tahun. Selama tinggal di kota mode tersebut, Harry banyak mengalami pasang surut emosi. Pada usia 14 tahun, dia mengalami depresi total. Suatu ketika, dia kabur ke India. Di sana ada kenalan orangtuanya yang mau memberikan tempat tinggal. "Saya ke India hanya membawa kain- kain kanvas," ujarnya. Pakaian bisa dibeli di sana, tapi tujuannya hanya satu, melukis.

Harry remaja mesti memiliki wadah saluran ide berlebihnya. "Dengan tengah malam main harpa, main gamelan. Saya diusir dari rumah di Prancis karena bikin gaduh. Saya bisa tenang karena alat pintal. Saat memintal, saya merasa begitu personal," ucap Harry.

Sebagai anak indigo, Harry memiliki begitu banyak keistimewaan. Dia brilian, magnificent. Dalam hening, pikirnya lincah menelusuri relung ide yang tak ada habisnya. Harry membeli sebuah alat pintal dan mulai memintal benang sebagai bahan kain.

"Bukan hanya satu benang pintalan, tapi jutaan!" ujar Harry. Jutaan pintalan tersebut dibuat menjadi baju dengan konsep haute couture atau art to wear.

Saking hiperaktifnya, Harry melakukan apa saja selagi bisa. Misal, mengumpulkan tulang ikan untuk dibuat manik-manik di baju. Atau menggambar sketsa Masjid Agung Banten lengkap dengan ruang demi ruang. Sketsa tersebut makan waktu terlama yaitu tujuh menit. Orangtua Harry telaten menyimpan hasil karya si buah hati. Sampai akhirnya kini dia mengoleksi barang-barang miliknya sendiri.

Kebakaran hebat pada tahun 1994 nyaris merampas semua kenangan. Namun, Harry menyaksikan sendiri mukjizat Tuhan. Baju-baju rancangannya selamat dari api, sementara benda kokoh malah habis dilahap si jago merah. "Piano, perpustakaan saya kebakar, tapi sketsa-sketsa gambar semua utuh," ujar pria yang mengenyam pendidikan mode di London College of Fashion ini.

Baju koleksi Harry, rancangan khusus bagi wanita terhebat di dunia seperti Lady Diana, Ratu Raina dari Jordan, atau kostum pertunjukan terhebat dunia, seperti Julius Caesar, Hamlet, dan Othelo, Kinglear, selamat dari amukan si jago merah. "Ini mukjizat karena kertas enggak terbakar, piano terbakar. Kain sutra enggak terbakar, apa itu kalau bukan mukjizat," tandasnya.

Periode tahun 1996 sampai 2001, Harry Darsono membangun museum pribadinya yang terletak di kawasan Cilandak. Museum seluas 800 meter persegi ini berdiri diatas tanah seluar 1 hektare bergaya baroque, berdasarkan sketsa buatannya pada usia sembilan tahun. Museum ini menyimpan berbagai karya Harry sejak 1970 hingga sekarang dalam bentuk adi busana, art to wear, kostum panggung kontemporer, tapestry, lukisan berukuran besar di atas sutra, desain-desain perhiasan, desain trofi, tenun ikat, sulaman dekoratif dan kontemporer, serta novelty fabrics untuk interior dan adibusana yang terbuat dari sutra halus.

"Saya masih simpan koleksi berbagai busana karya saya di basement. Secara berkala, koleksi di sini selalu berputar, biar tidak monoton," kata Harry. Pemerintah Kota Jakarta menetapkan rumah ini menjadi daerah tujuan wisata museum di kawasan Jakarta Selatan. Sebagai seorang desainer, Harry hanya mengerjakan karya-karya dengan cita rasa seni tinggi. Pada tahun 1970-an, dialah yang memopulerkan istilah adi busana.

(Tuty Ocktaviany)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya