PERNAH merasa sulit tidur karena terlalu banyak pikiran, lalu keesokan harinya justru semakin stres akibat kurang istirahat? Kondisi ini ternyata memiliki hubungan yang erat.
Stres dapat mengganggu kualitas tidur. Sementara itu, kurang tidur bisa membuat seseorang lebih sulit mengelola emosi dan menghadapi tekanan sehari-hari.
Hubungan timbal balik ini dikenal sebagai sleep-stress cycle atau siklus stres dan tidur. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental, konsentrasi, hingga kualitas hidup. Lantas, bagaimana stres bisa mengganggu tidur dan apa yang dapat dilakukan untuk memutus siklus tersebut?

Dilansir dari HealthLine, stres bukan sekadar perasaan tertekan. Ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau membebani, tubuh mengaktifkan respons stres yang membuat seseorang lebih waspada.
Respons ini dapat meningkatkan detak jantung, mempercepat pernapasan, dan membuat otot menegang. Dalam situasi berbahaya, reaksi tersebut membantu tubuh bersiap menghadapi ancaman. Namun, ketika muncul akibat kekhawatiran sehari-hari, respons stres justru dapat menghambat tubuh untuk beristirahat.
Salah satu hormon yang terlibat dalam respons tersebut adalah kortisol. Hormon ini memiliki pola alami sepanjang hari, dengan kadar yang umumnya lebih rendah pada malam hari dan meningkat menjelang waktu bangun tidur.
Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, pola tersebut dapat terganggu. Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara kadar kortisol malam hari yang lebih tinggi dan durasi tidur yang lebih pendek.
Akibatnya, seseorang bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk terlelap, sering terbangun pada malam hari, atau merasa tidurnya tidak nyenyak.
Hubungan antara stres dan tidur berjalan dua arah. Bukan hanya stres yang membuat seseorang sulit tidur, kurang tidur juga dapat meningkatkan sensitivitas terhadap tekanan.
Ketika waktu tidur tidak mencukupi, tubuh dan otak tidak memperoleh waktu pemulihan yang optimal. Kondisi ini dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan.
Berikut beberapa dampak kurang tidur yang dapat memperburuk stres. Pertama, emosi lebih sulit dikendalikan. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung, frustrasi, atau merasa kewalahan ketika menghadapi masalah.
Kedua, konsentrasi menurun. Pekerjaan yang biasanya terasa mudah bisa menjadi lebih sulit diselesaikan sehingga menambah tekanan.
Ketiga, respons terhadap hal positif berkurang. Kurang tidur dapat mengurangi kemampuan seseorang merasakan emosi positif, seperti senang dan bersemangat.
Keempat, kebiasaan yang mengganggu tidur semakin sering dilakukan. Sebagian orang mungkin terus menggunakan ponsel, memikirkan masalah berulang kali, atau menyalahkan diri sendiri ketika sulit tidur.
Jika kondisi ini terus berulang, stres dapat membuat tidur semakin buruk, kemudian kurang tidur kembali meningkatkan stres pada hari berikutnya.