
Menariknya, labu bukanlah sayuran pertama yang digunakan untuk membuat Jack-o'-lantern. Di Irlandia dan sebagian wilayah Inggris, masyarakat dahulu menggunakan lobak atau sayuran akar lainnya. Mereka melubangi bagian dalamnya, mengukir wajah, lalu menempatkan sumber cahaya di dalamnya.
Tradisi tersebut kemudian dibawa oleh para imigran Irlandia ke Amerika Utara. Di sana, mereka menemukan labu yang lebih mudah digunakan sebagai bahan lentera.
Labu memiliki ukuran yang relatif besar, daging bagian dalam yang lebih mudah dikeluarkan, serta kulit yang dapat diukir menjadi berbagai bentuk. Selain itu, labu tersedia melimpah saat musim gugur di Amerika Utara.
Karena alasan praktis tersebut, labu secara bertahap menjadi pilihan populer untuk membuat Jack-o'-lantern. Tradisi ini kemudian menyebar luas dan semakin memperkuat hubungan antara labu dan Halloween.
Seiring berkembangnya perayaan Halloween, bentuk Jack-o'-lantern juga mengalami perubahan. Pada awalnya, lentera dibuat dengan desain sederhana berupa mata, hidung, dan mulut yang menyeramkan. Kini, orang-orang semakin kreatif dalam mengukir labu dengan berbagai pola, mulai dari karakter fiksi, hewan, hingga desain artistik yang rumit.
Labu yang telah diukir biasanya ditempatkan di teras rumah, jendela, atau taman. Sebagian orang menggunakan lilin, sementara lainnya memilih lampu LED untuk memberikan efek cahaya dari dalam.
Selain menjadi dekorasi, kegiatan mengukir labu juga berkembang menjadi aktivitas keluarga dan komunitas menjelang Halloween. Anak-anak dan orang dewasa dapat berkreasi membuat desain sesuai selera masing-masing.
Namun, jika menggunakan pisau untuk mengukir labu, anak-anak sebaiknya didampingi orang dewasa. Penggunaan lampu LED juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi risiko kebakaran akibat lilin.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.