Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Benarkah Sering Ngemil Tengah Malam Berisiko pada Penyakit Liver? Ini Faktanya!

Agustina Wulandari , Jurnalis-Senin, 12 Oktober 2026 |23:05 WIB
Benarkah Sering <i>Ngemil</i> Tengah Malam Berisiko pada Penyakit Liver? Ini Faktanya!
Ilustrasi menyantap camilan pada malam hari. (Foto: dok Magnific)
A
A
A

JAKARTA – Kebiasaan ngemil pada malam hari mungkin terasa menyenangkan, apalagi saat sedang menonton film, bekerja lembur, atau sulit tidur. Namun, kebiasaan ini ternyata berpotensi berkaitan dengan masalah kesehatan hati jika dilakukan secara terus-menerus.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Oregon Health & Science University (OHSU), Amerika Serikat, menemukan bahwa kebiasaan makan larut malam berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit hati berlemak dan sirosis hati.

Penelitian yang dipublikasikan pada 9 Oktober 2026 di jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology ini menambah bukti bahwa waktu makan juga berperan dalam menjaga kesehatan tubuh, bukan hanya jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Makan Larut Malam Ada Hubungannya dengan Risiko Penyakit Liver

Melansir News Medical, para peneliti menganalisis data dari hampir 200.000 peserta yang tergabung dalam tiga penelitian berskala besar, yaitu Nurses' Health Study, Nurses' Health Study II, dan Health Professionals Follow-up Study.

Data yang dianalisis mencakup kebiasaan makan, gaya hidup, serta laporan peserta mengenai penyakit hati berlemak dan sirosis. Kebiasaan makan larut malam dalam penelitian ini mencakup makan setelah makan malam atau setelah waktu tidur.

Hasilnya, peserta yang melaporkan kebiasaan makan larut malam memiliki angka kejadian penyakit hati sekitar 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut.

Dua kondisi yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolisme, dan sirosis, yakni kondisi ketika jaringan hati mengalami kerusakan serta pembentukan jaringan parut.

Meski begitu, temuan ini tidak berarti setiap orang yang makan pada malam hari pasti mengalami penyakit hati. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pola makan larut malam dan risiko penyakit, bukan membuktikan bahwa kebiasaan tersebut secara langsung menjadi penyebabnya.

Mengapa Waktu Makan Bisa Memengaruhi Kesehatan Hati?

Salah satu hal yang menjadi perhatian para peneliti adalah ritme sirkadian, yaitu jam biologis alami tubuh yang mengatur berbagai proses, termasuk siklus tidur dan bangun. Hati juga mengikuti ritme tersebut dalam menjalankan fungsi metabolisme, termasuk mengolah zat gizi yang masuk ke tubuh.

Robert Wilechansky, dokter spesialis hati sekaligus penulis utama penelitian dari OHSU, menjelaskan bahwa hati sangat berkaitan dengan ritme sirkadian tubuh. Karena itu, perubahan waktu makan berpotensi memengaruhi kesehatan tanpa harus selalu mengubah jenis makanan yang dikonsumsi.

Sementara itu, Andrew McHill, salah satu penulis penelitian yang mempelajari ritme sirkadian dan tidur, menjelaskan bahwa tubuh cenderung tidak mengolah makanan seefisien biasanya ketika seseorang makan pada malam hari, saat jam biologis tubuh sedang mempersiapkan diri untuk tidur.

Jika pola ini berlangsung dalam jangka panjang, gangguan metabolisme dapat berkaitan dengan masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan gangguan kesehatan hati.

Meski demikian, mekanisme tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut untuk memahami secara pasti bagaimana waktu makan memengaruhi perkembangan penyakit hati pada manusia.

Meski hasilnya menarik, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini bersifat observasional. Artinya, penelitian tersebut mengamati hubungan antara kebiasaan makan dan penyakit hati, bukan menguji secara langsung apakah makan larut malam menyebabkan penyakit.

Selain itu, data kebiasaan makan dan kondisi kesehatan peserta sebagian berasal dari laporan mereka sendiri. Oleh karena itu, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan apakah mengubah waktu makan menjadi lebih awal benar-benar dapat memperbaiki kondisi hati.

Tim peneliti OHSU juga tengah menyiapkan penelitian lanjutan yang akan memantau kebiasaan makan secara lebih langsung untuk melihat apakah makan lebih awal dapat memperbaiki indikator klinis penyakit hati berlemak.

Jadi, menjaga kesehatan hati tak hanya berkaitan dengan apa yang kamu makan, tetapi juga kapan kamu makan. Mengatur jadwal makan, menjaga pola tidur, dan menerapkan gaya hidup sehat bisa menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement