JAKARTA - Pernah merasa satu hari berlalu begitu saja karena lebih banyak duduk? Setelah sarapan, duduk di depan laptop. Saat makan siang, kembali ke meja kerja. Pulang ke rumah, duduk di sofa sambil menonton televisi atau bermain ponsel.
Rutinitas seperti ini mungkin terasa biasa, terutama bagi mereka yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di depan komputer. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan terlalu banyak duduk dan jarang bergerak bisa berdampak pada kesehatan, termasuk jantung.
Mengutip Hindustan Times, sejumlah penelitian menemukan bahwa terlalu banyak duduk berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, hingga kematian dini.
Dokter Spesialis Jantung Ajit Menon menjelaskan bahwa ada beberapa istilah yang perlu dibedakan, yakni perilaku sedentari, kurang aktivitas fisik, dan aterosklerosis. Sementara itu, kurang bergerak berarti tubuh tidak mendapatkan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat dalam jumlah yang cukup sesuai rekomendasi kesehatan.
Jadi, seseorang bisa saja berolahraga selama 30 menit dalam sehari, tetapi tetap menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk. Hal ini menjadi penting karena olahraga rutin dan mengurangi waktu duduk merupakan dua hal yang saling melengkapi.
Aterosklerosis merupakan proses menumpuknya plak yang terdiri dari lemak dan jaringan fibrosa di dinding pembuluh darah. Proses ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan dipengaruhi berbagai faktor, seperti kadar kolesterol LDL, tekanan darah, diabetes, kebiasaan merokok, faktor genetik, usia, dan peradangan.
Jika terjadi pada pembuluh darah koroner, aliran darah menuju jantung dapat berkurang dan meningkatkan risiko angina maupun serangan jantung.
Namun, dr. Ajit menegaskan bahwa duduk itu sendiri tak bisa dianggap sebagai penyebab langsung terjadinya "penyumbatan jantung". Kebiasaan terlalu banyak duduk dan kurang bergerak lebih berkaitan dengan sejumlah faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan jantung.
Misalnya, gaya hidup yang minim aktivitas bisa membuat seseorang lebih mudah mengalami kenaikan berat badan, gangguan pengaturan gula darah, tekanan darah tinggi, serta profil kolesterol yang kurang sehat. Jika ditambah faktor risiko lainnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Bagi yang pekerjaannya mengharuskan duduk dalam waktu lama, perubahan kecil bisa dimulai dengan cara yang sederhana.
Dokter Pravin Kulkarni menyarankan untuk berdiri dan bergerak selama sekitar lima menit setiap 30–60 menit. “Kita juga bisa berjalan sebentar di tempat kerja, menggunakan tangga, atau menghindari menonton televisi secara terus-menerus tanpa jeda,” ujarnya.
Berjalan menjadi salah satu pilihan yang cukup mudah karena tidak membutuhkan peralatan khusus. Aktivitas ini juga bisa diselipkan ke dalam rutinitas sehari-hari.
Misalnya, berjalan kaki sebentar setelah makan siang, mengambil minum sendiri daripada meminta bantuan, atau berjalan saat menerima telepon.
Bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, aktivitas fisik sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis.
Menjaga kesehatan jantung tidak selalu harus dimulai dengan olahraga yang berat atau mengubah seluruh rutinitas dalam satu hari.
Jika selama ini lebih banyak duduk, cobalah perlahan-lahan menambah aktivitas fisik. Yang terpenting bukan hanya menyediakan waktu khusus untuk berolahraga, tetapi juga memberi tubuh kesempatan untuk bergerak sepanjang hari.
Seperti yang disampaikan dr. Ajit, kebiasaan yang bisa diterapkan adalah lebih banyak bergerak, mengurangi waktu duduk, dan menekan berbagai faktor risiko penyakit jantung.
Jadi, saat bekerja di depan laptop, jangan lupa sesekali berdiri dan berjalan sebentar. Gerakan kecil yang dilakukan secara rutin bisa menjadi bagian sederhana dari kebiasaan sehari-hari untuk menjaga tubuh tetap aktif.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.