“Pengakuan privilese yang mengambang. Dia emang ada nyebut soal privilese. Tapi ujung-ujungnya ditutup dengan: ‘menggunakan ruang dan kapasitas yang aku punya’,” tulisnya.
Akun tersebut mempertanyakan apakah pengakuan mengenai privilese itu sudah cukup jika tidak disertai penjelasan mengenai langkah konkret untuk merespons dampak dari polemik yang terjadi.
Di sisi lain, dalam pernyataannya sendiri Maudy memang mengakui bahwa apa yang ia sampaikan telah menyebabkan kekecewaan dan kemarahan. Ia juga menulis bahwa perspektif dan konteks yang ia pertimbangkan sebelumnya belum cukup sehingga pesannya terasa jauh dari realita dan pengalaman yang dihadapi banyak orang.
Utas tersebut kemudian menyinggung latar pendidikan Maudy yang pernah menempuh pendidikan di Oxford dan Stanford. Menurut @gigithefabacnh, latar pendidikan tersebut tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari kemungkinan memiliki “blind spot” dalam berkomunikasi dengan publik.
Ia mengaitkan hal itu dengan apa yang disebutnya sebagai budaya growth mindset dan self-actualization yang menurutnya kuat dalam lingkungan pendidikan di Amerika Serikat.
“Narasi self-actualization dan personal journey itu kayak bisa dibilang DNA mereka,” tulisnya.
Ia juga menyebut istilah “good student syndrome” untuk menggambarkan kecenderungan orang yang terbiasa berprestasi menunjukkan bahwa dirinya mau belajar dan mampu melakukan refleksi ketika melakukan kesalahan.
Di bagian akhir, @gigithefabacnh justru mengajak pembaca tidak berhenti pada perdebatan apakah permintaan maaf Maudy harus diterima atau ditolak.