ORANGTUA perlu melakukan sejumlah langkah pencegahan ketika anak tetap harus bersekolah di tengah penyebaran influenza A. Pasalnya, seseorang yang sudah terkena influenza A belum tentu langsung menunjukkan gejala, tetapi tetap berpotensi menularkan virus kepada orang lain.
Dokter Spesialis Anak dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA(K), dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone ungkap langkah-langkahnya. Ada sejumlah langkah yang perlu diperhatikan, dari cuci tangan hingga ventilasi di ruang kelas.
dr. Yogi menjelaskan anggapan bahwa virus hanya menular ketika seseorang sudah mengalami gejala merupakan hal yang keliru. Setelah virus masuk ke tubuh, terdapat masa inkubasi sebelum gejala muncul.
Menurutnya, masa penularan justru dapat berlangsung sebelum seseorang mengalami gejala. Risiko penularan disebut tinggi mulai sekitar satu hari sebelum gejala muncul hingga beberapa hari setelahnya.
Artinya, anak yang terlihat sehat dan belum menunjukkan keluhan belum tentu bebas dari risiko menularkan virus. Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus di lingkungan sekolah yang mempertemukan banyak anak dalam satu ruangan.
“Jadi salah satu yang seringkali kita salah kaprah adalah berpikir virus ini menular pada saat gejala timbul. Padahal tidak,” ujar dr. Yogi.
“Jadi setelah kita ketularan, masa inkubasi mulai dari virus masuk sampai ada gejala, mungkin sekitar 1-4 hari. Nah kemudian masa penularan justru itu terjadi tinggi-tingginya 1 hari sebelum gejala timbul hingga kira-kira 5-7 hari setelahnya. Artinya apa? Artinya pada saat kita berada dalam satu komunitas yang orangnya ramai, dan kita juga enggak tahu siapa yang sudah terpapar. Maka teman-teman atau anak-anak yang belum bergejala itu bisa saja sudah mulai menularkan,” lanjutnya.
Salah satu langkah penting yang perlu diterapkan adalah adanya kebijakan sekolah yang memungkinkan anak maupun guru yang sedang sakit untuk tidak masuk sekolah. Menurut dr. Yogi, ketidakhadiran karena sakit sebaiknya tidak diberikan sanksi selama disertai informasi yang jelas dari orangtua atau pihak terkait.
Kebijakan tersebut dinilai penting. Pasalnya, memaksakan anak yang sedang bergejala untuk tetap masuk sekolah justru dapat meningkatkan risiko penularan kepada teman-temannya.
“Harus ada kebijakan nih di sekolah. Kalau anak sakit, kalau guru sakit, maka boleh untuk tidak masuk cukup menginformasikan tanpa ada sanksi. Gitu ya. Kadang-kadang kan sekarang mungkin disiplin boleh, oke,” jelas dr. Yogi.
“Tapi dalam kondisi seperti ini, kalau dipaksakan anak yang bergejala untuk masuk, maka risiko penularannya tentu lebih besar,” lanjutnya.
Kebersihan tangan juga menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan penularan virus di sekolah. Karena itu, sekolah perlu memastikan tersedianya fasilitas untuk mencuci tangan.
Jika fasilitas cuci tangan dengan air mengalir tidak memungkinkan tersedia di setiap tempat, penggunaan cairan pembersih tangan dapat menjadi alternatif. Anak juga perlu diajarkan kapan harus membersihkan tangan.
Misalnya setelah batuk atau bersin, setelah menyentuh benda yang digunakan bersama, serta sebelum dan sesudah makan. Kebiasaan sederhana tersebut perlu dilakukan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.
“Kemudian fasilitas cuci tangan itu tidak selalu tersedia. Tolong dipastikan di tiap ruang kelas, misalnya ada fasilitas cuci tangan,” tutur dr. Yogi.
“Kalau tidak memungkinkan cuci tangan dengan air mengalir, maka cuci tangan kering kan juga bisa dikerjakan, diajarkan di sekolah, kita kapan cuci tangan. Misalnya sesudah batuk, habis itu cuci tangan. Setelah kita menyentuh benda-benda yang sering dipakai oleh orang banyak, kita cuci tangan. Sebelum makan, sesudah makan kita cuci tangan,” sambungnya.