“Plastik lebih unggul karena ringan, efisien diproduksi, dan jejak energi awalnya relatif lebih rendah dibandingkan banyak alternatif. Ada jurnal ilmiah yang menegaskan bahwa klaim lebih ramah lingkungan tidak bisa digeneralisasi tanpa melihat seluruh siklus hidup produk,” jelasnya.
Menurut Bang Sap, mengganti kantong plastik dengan tote bag kertas tidak selalu berarti menghilangkan dampak lingkungan. Jika tidak digunakan secara berulang dan dikelola dengan baik, pergantian material hanya dapat memindahkan sumber dampak, bukan menguranginya.
“Kalau kita merasa lebih ramah lingkungan hanya karena ganti plastik ke bahan lain, bisa jadi kita cuma memindahkan dampak, bukan mengurangi dampaknya. Narasi plastik itu jahat jauh lebih mudah dijual,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak dalam menggunakan produk berbahan apa pun, termasuk tote bag kertas. Menurutnya, hal terpenting adalah memaksimalkan penggunaan ulang dan memahami dampak sebuah produk secara menyeluruh.
“Gunakan seperlunya, maksimalkan pemakaian ulang, dan pastikan pengelolaannya benar. Biasakan melihat produk dari siklus hidupnya, bukan hanya dari bahannya,” pungkas Bang Sap.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.