Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sejarah Gunung Krakatau: Letusan Dahsyat 1883 yang Buat Dunia Gelap 2,5 Hari hingga Munculnya Anak Krakatau

Djanti Virantika , Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |17:05 WIB
Sejarah Gunung Krakatau: Letusan Dahsyat 1883 yang Buat Dunia Gelap 2,5 Hari hingga Munculnya Anak Krakatau
Gunung Krakatau. (Foto: Freepik)
A
A
A

6. Setelah Krakatau Hancur, Muncul Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau

Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau. Namun, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut tidak benar-benar berhenti.

Pada 1920-an, daratan baru mulai muncul dari laut di kawasan bekas Krakatau. Gunung api baru tersebut kemudian dikenal dengan nama Anak Krakatau, yang berarti “anak dari Krakatau”.

Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan melalui aktivitas vulkanik. Dari waktu ke waktu, bentuk dan ketinggiannya berubah akibat proses erupsi dan pertumbuhan material vulkanik. Kemunculan Anak Krakatau menjadi bukti bahwa sistem vulkanik di Selat Sunda masih aktif setelah bencana besar 1883.

Sejarah Anak Krakatau kembali mencatat peristiwa besar pada 22 Desember 2018. Saat itu, aktivitas erupsi menyebabkan sebagian tubuh Anak Krakatau mengalami longsoran ke laut. Material yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung.

Tsunami tersebut menewaskan ratusan orang dan menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah pesisir. Peristiwa 2018 memberikan pelajaran penting bahwa bahaya gunung api di kawasan kepulauan tidak hanya berasal dari lava, abu, atau awan panas. Longsoran material vulkanik ke laut juga dapat memicu tsunami.

7. Mengapa Anak Krakatau Perlu Terus Dipantau?

Kawasan Krakatau berada di wilayah dengan aktivitas tektonik dan vulkanik yang tinggi. Karena itu, aktivitas Anak Krakatau terus dipantau oleh lembaga terkait.

Ketika aktivitas gunung meningkat, masyarakat di sekitar Selat Sunda perlu memperhatikan informasi mengenai status gunung api dan zona yang dinyatakan aman atau berbahaya. Abu vulkanik juga dapat menjadi salah satu dampak erupsi yang dirasakan masyarakat.

Partikel halus tersebut dapat mengganggu kualitas udara dan saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang berada dekat dengan wilayah terdampak. Karena itu, apabila terjadi penyebaran abu, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dengan arahan otoritas.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement