Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sejarah Gunung Krakatau: Letusan Dahsyat 1883 yang Buat Dunia Gelap 2,5 Hari hingga Munculnya Anak Krakatau

Djanti Virantika , Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |17:05 WIB
Sejarah Gunung Krakatau: Letusan Dahsyat 1883 yang Buat Dunia Gelap 2,5 Hari hingga Munculnya Anak Krakatau
Gunung Krakatau. (Foto: Freepik)
A
A
A

SEJARAH Gunung Krakatau menarik diulas. Sebab kini, perhatian masyarakat Indonesia bahkan publik dunia tengah tertuju ke Gunung Anak Krakatau yang tengah erupsi.

Erupsi Gunung Anak Krakatau telah terjadi secara signifikan pada Jumat, 4 September 2026 malam WIB dengan pancaran lava (lava fountain) mulai teramati sekitar pukul 23.07 WIB. Aktivitas kemudian berlanjut dan pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB kembali tercatat erupsi menerus. 

anak krakatau 23 desember-reuters

Hingga Senin, 7 September 2026, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga) menurut laporan MAGMA ESDM. Aktivitas memang dilaporkan menurun, tetapi PVMBG menegaskan bahwa kemungkinan erupsi susulan masih ada. 

Meningkatnya aktivitas Anak Krakatau membuat masyarakat waspada. Pasalnya, Gunung Krakatau yang merupakan salah satu gunung api yang memiliki sejarah panjang di Indonesia ini pernah mengalami salah satu letusan paling dahsyat dalam sejarah modern pada 1883.

Erupsi tersebut tidak hanya menghancurkan kawasan di sekitar Selat Sunda, tetapi juga menimbulkan tsunami dan memengaruhi atmosfer hingga ke berbagai wilayah di dunia. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah kebencanaan Indonesia.

1. Krakatau Sebelum Letusan 1883

Dilansir dari Natural History Museum, aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau telah berlangsung jauh sebelum bencana besar pada 1883. Wilayah tersebut merupakan bagian dari zona tektonik aktif akibat pertemuan lempeng yang membentuk rangkaian gunung api di Indonesia.

Sebelum 1883, Krakatau terdiri atas beberapa bagian utama, termasuk Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Aktivitas vulkanik telah tercatat beberapa kali dalam sejarah, meskipun informasi mengenai letusan pada masa lampau tidak selalu lengkap.

Menjelang 1883, aktivitas Krakatau kembali meningkat. Peningkatan aktivitasnya meningkat usai lewati periode yang relatif tenang.

2. Letusan Besar Krakatau pada 1883

Pada Mei 1883, aktivitas vulkanik Krakatau mulai meningkat. Letusan dan suara ledakan mulai terdengar dari wilayah sekitar Selat Sunda. Aktivitas tersebut terus berkembang selama beberapa bulan hingga mencapai puncaknya pada Agustus 1883.

Pada 26 dan 27 Agustus, terjadi serangkaian ledakan besar. Puncaknya terjadi pada pagi 27 Agustus ketika beberapa ledakan dahsyat mengguncang kawasan tersebut. Sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan material vulkanik dalam jumlah besar terlontar ke atmosfer. Letusan ini juga menghasilkan tsunami besar yang kemudian menghantam wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Lebih dari 36.000 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban bukan disebabkan langsung oleh letusan, melainkan oleh tsunami yang terjadi setelah rangkaian erupsi. Pasalnya, tsunami yang disebabkan letusan tersebut capai setinggi 40 meter.

 

3. Suara Letusan Terdengar hingga Ribuan Kilometer

Besarnya energi yang dilepaskan Krakatau pada 1883 membuat suara ledakannya terdengar sangat jauh dari sumbernya. Laporan sejarah menyebut suara ledakan terdengar hingga wilayah Australia dan pulau-pulau di Samudra Hindia.

Gelombang tekanan atmosfer yang dihasilkan letusan juga tercatat oleh instrumen di berbagai tempat. Peristiwa ini menunjukkan betapa besar kekuatan erupsi Krakatau pada saat itu.

anak krakatau lava pijar-getty

4. Letusan Krakatau Mengubah Langit Dunia

Dampak Krakatau ternyata tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar Selat Sunda. Letusan tersebut melepaskan abu vulkanik dan gas, termasuk sulfur dioksida, dalam jumlah besar ke atmosfer. Material tersebut kemudian memengaruhi cara cahaya Matahari melewati atmosfer.

Akibatnya, berbagai wilayah di dunia mengalami matahari terbenam dengan warna yang sangat mencolok. Langit terlihat merah, jingga, hingga keunguan.

Di sejumlah tempat, masyarakat juga melaporkan Bulan tampak berwarna kebiruan. Fenomena tersebut terjadi karena partikel vulkanik tertentu di atmosfer dapat memengaruhi penyebaran cahaya.

Dengan demikian, letusan Krakatau menjadi salah satu contoh paling terkenal mengenai bagaimana aktivitas sebuah gunung api dapat memengaruhi atmosfer dalam skala global. Bahkan, dunia sempat sempat gelap selama 2,5 hari karena debu vulkanis menutupi atmosfer.

5. Suhu Bumi Ikut Mengalami Perubahan

Material vulkanik yang berada di atmosfer juga berdampak terhadap suhu global. Suhu bumi turun sekitar 1,2 derajat Celsius selama beberapa tahun akibat musim dingin vulkanik.

Aerosol sulfat yang terbentuk dari sulfur dioksida dapat mengurangi jumlah radiasi Matahari yang mencapai permukaan Bumi. Kondisi ini menyebabkan pendinginan sementara setelah letusan besar.

Dampak tersebut tidak berlangsung selamanya, tetapi cukup signifikan untuk menjadi perhatian para ilmuwan. Krakatau kemudian menjadi salah satu peristiwa penting dalam penelitian mengenai hubungan antara letusan gunung api besar dan perubahan iklim jangka pendek.

 

6. Setelah Krakatau Hancur, Muncul Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau

Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau. Namun, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut tidak benar-benar berhenti.

Pada 1920-an, daratan baru mulai muncul dari laut di kawasan bekas Krakatau. Gunung api baru tersebut kemudian dikenal dengan nama Anak Krakatau, yang berarti “anak dari Krakatau”.

Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan melalui aktivitas vulkanik. Dari waktu ke waktu, bentuk dan ketinggiannya berubah akibat proses erupsi dan pertumbuhan material vulkanik. Kemunculan Anak Krakatau menjadi bukti bahwa sistem vulkanik di Selat Sunda masih aktif setelah bencana besar 1883.

Sejarah Anak Krakatau kembali mencatat peristiwa besar pada 22 Desember 2018. Saat itu, aktivitas erupsi menyebabkan sebagian tubuh Anak Krakatau mengalami longsoran ke laut. Material yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung.

Tsunami tersebut menewaskan ratusan orang dan menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah pesisir. Peristiwa 2018 memberikan pelajaran penting bahwa bahaya gunung api di kawasan kepulauan tidak hanya berasal dari lava, abu, atau awan panas. Longsoran material vulkanik ke laut juga dapat memicu tsunami.

7. Mengapa Anak Krakatau Perlu Terus Dipantau?

Kawasan Krakatau berada di wilayah dengan aktivitas tektonik dan vulkanik yang tinggi. Karena itu, aktivitas Anak Krakatau terus dipantau oleh lembaga terkait.

Ketika aktivitas gunung meningkat, masyarakat di sekitar Selat Sunda perlu memperhatikan informasi mengenai status gunung api dan zona yang dinyatakan aman atau berbahaya. Abu vulkanik juga dapat menjadi salah satu dampak erupsi yang dirasakan masyarakat.

Partikel halus tersebut dapat mengganggu kualitas udara dan saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang berada dekat dengan wilayah terdampak. Karena itu, apabila terjadi penyebaran abu, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dengan arahan otoritas.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement