Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

RI Kekurangan Dokter Spesialis, Kemenkes Siapkan AI untuk Bantu Baca Hasil MRI dan Pemeriksaan Medis

Mei Sada Sirait , Jurnalis-Kamis, 20 Agustus 2026 |08:10 WIB
RI Kekurangan Dokter Spesialis, Kemenkes Siapkan AI untuk Bantu Baca Hasil MRI dan Pemeriksaan Medis
RI Kekurangan Dokter Spesialis, Kemenkes Siapkan AI untuk Bantu Baca Hasil MRI dan Pemeriksaan Medis (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA — Keterbatasan jumlah dan pemerataan dokter spesialis di Indonesia mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam layanan kesehatan. Teknologi tersebut disiapkan untuk membantu tenaga medis menganalisis hasil pemeriksaan, termasuk citra medis dari MRI.

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan RI Eko Sulistijo mengatakan, perkembangan teknologi alat kesehatan belum selalu diikuti dengan ketersediaan tenaga medis yang memiliki kompetensi untuk menganalisis hasil pemeriksaan.

Ia mencontohkan penggunaan MRI di sejumlah fasilitas kesehatan. Meskipun fasilitas kesehatan telah memiliki peralatan dengan teknologi canggih, keterbatasan dokter yang dapat membaca hasil pemeriksaan masih menjadi tantangan.

“Penyebaran dokter di Indonesia belum begitu merata. Sehingga pada saat kita lakukan modernisasi alat kesehatan, salah satu misi kami seperti MRI itu tidak serta-merta ketersediaan dokter yang bisa menganalisis hasilnya juga secepat peralatannya,” ujar Eko.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Kemenkes mengembangkan teknologi AI untuk membantu menganalisis hasil pemeriksaan berbasis gambar. Hasil pemeriksaan dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), khususnya tingkat primer, nantinya dapat dikumpulkan secara terpusat.

Data berupa citra medis tersebut kemudian dapat diproses menggunakan AI untuk menghasilkan analisis awal. Hasil analisis selanjutnya dapat dikirimkan kembali ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan, sementara data pemeriksaan tetap tercatat dalam ekosistem SatuSehat.

“Solusi yang paling dekat adalah pemanfaatan AI untuk bisa membantu gambar-gambar yang di-capture di masing-masing faskes, khususnya di faskes primer, itu bisa dikumpulkan secara terpusat yang kita coba koneksikan dengan AI yang kita sudah siapkan,” jelasnya.

Menurut Eko, pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya Kemenkes memperluas pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan. AI diharapkan dapat membantu fasilitas kesehatan yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap dokter radiologi maupun tenaga ahli tertentu.

Meski demikian, Eko menegaskan bahwa penggunaan AI bukan untuk menggantikan peran dokter. Teknologi tersebut lebih diarahkan sebagai alat bantu untuk mempercepat proses analisis serta mendukung tenaga kesehatan dalam menentukan langkah berikutnya.

Perkuat Integrasi Data Kesehatan

Pengembangan AI juga tidak dapat dilepaskan dari penguatan sistem data kesehatan nasional. Menurut Eko, semakin banyak fasilitas kesehatan yang terhubung dengan sistem dan menggunakan standar pertukaran data yang sama, semakin besar pula peluang data tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi.

Kemenkes menerapkan sejumlah standar pertukaran data kesehatan agar informasi dari berbagai sistem dapat dibaca dan diproses secara konsisten. Beberapa standar yang digunakan antara lain HL7 dan FHIR untuk data kesehatan, LOINC untuk data laboratorium, serta DICOM untuk data radiologi.

“Sistemnya boleh berbeda tapi standarnya sama. Sehingga ini menjamin data yang dikirimkan ke Kementerian Kesehatan itu juga memang memiliki kualitas yang setara,” kata Eko.

Pemanfaatan AI juga berpotensi diterapkan pada bidang kesehatan lainnya, tidak hanya untuk menganalisis citra medis.

Eko menyebut teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu memantau hasil berbagai program pemeriksaan kesehatan. Salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang menghasilkan data skrining masyarakat.

Data yang terkumpul dapat dianalisis untuk membantu pemerintah melihat kebutuhan tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan.

Selain itu, AI juga berpotensi dimanfaatkan dalam pengelolaan logistik kesehatan. Teknologi tersebut dapat membantu memantau ketersediaan alat kesehatan maupun bahan medis habis pakai sehingga ketika persediaan mulai menipis, proses pengadaan dan distribusi dapat lebih cepat dilakukan.

Keamanan Data Jadi Perhatian

Di tengah meningkatnya pemanfaatan AI dan integrasi data kesehatan, aspek keamanan menjadi perhatian penting.

Eko mengatakan fasilitas kesehatan perlu memiliki mekanisme untuk menghadapi potensi ancaman terhadap sistem digital, termasuk melalui pembentukan tim tanggap insiden siber.

Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan data kesehatan yang terhubung dengan ekosistem SatuSehat.

“Tapi ada satu hal yang harus kita jaga adalah keamanan datanya itu sendiri,” tegas Eko.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement