“Nah, buat kalian semua, tipsnya untuk berhenti, utamanya bapak-bapak ini bisa seperti saya, langsung berhenti dadakan karena dialihkan ke olahraga dan niatnya kuat. Tapi kalau kalian yang sudah kecanduan banget, itu akan mengalami withdrawal syndrome,” beber dr. Tirta.
Jika berhenti secara langsung terasa sulit, ia menyarankan untuk mendapatkan bantuan melalui konseling atau psikolog. Perokok juga dapat memanfaatkan layanan konseling berhenti merokok yang tersedia.
“Nah, tipsnya bisa ke terapi konseling, itu karena ada kontaknya di tiap bungkus rokok, atau terapi behavior, ya kan, ke psikolog. Atau langsung dialihkan ke kegiatan positif, tapi jangan malah makan terus malah obes,” tambahnya.
Pada akhirnya, dr. Tirta menekankan bahwa keinginan yang kuat merupakan bagian penting dalam proses berhenti merokok. Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan dalam proses tersebut bukan berarti seseorang memiliki mental yang lemah.
“Nek niate wis kenceng, digoda teman pun mau social smoker tetap akan bisa berhenti. Dan ingat, orang yang gagal berhenti ngrokok itu bukan mentalnya lemah, karena dia lagi proses. Mengurangi rokok itu juga proses, mengalihkan bentuk itu juga proses. Dan semangat buat kalian bapak-bapak yang berproses,” pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.