“Pada video ini dapat dilihat bahwa anak-anak nampak bermain, mendekati, bahkan tampak tidak terganggu atau menghindari ular sama sekali. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda rasa takut, cemas, atau berusaha menghindar,” ucapnya.
Kendati belum memiliki rasa takut secara alami, bukan berarti otak anak sama sekali buta terhadap keberadaan ular. Otak manusia secara evolusioner justru dirancang untuk lebih peka mendeteksi objek-objek tertentu di alam sekitar. Dalam hal ini, anak-anak memiliki kemampuan visual yang luar biasa cepat dalam mengenali keberadaan ular dibandingkan objek lainnya.
“Selain itu, anak ternyata lebih cepat mendeteksi ular dan menganggap ular lebih menarik dibandingkan hal lain, misalnya bunga,” kata dr. Adam.
Kepekaan visual yang tinggi ini kemudian berpadu dengan proses belajar sosial. Seiring bertambahnya usia, anak mulai menghubungkan keberadaan ular dengan respons emosional yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua atau pengasuh.
“Namun ada penelitian lain yang menunjukkan bahwa anak 7-18 bulan lebih lama menatap film ular bila dipasangkan dengan suara manusia yang ketakutan,” ucapnya.