TREN kualitas tidur yang baik belakangan ini tengah banyak digandrungi masyarakat. Banyak yang semakin terobsesi dengan indikator tidur nyenyak (deep sleep).
Banyak orang berlomba-lomba mendapatkan durasi deep sleep sepanjang mungkin. Bahkan, tak jarang rela mengorbankan total jam tidur harian.
Namun, benarkah mendapatkan deep sleep lebih banyak dengan waktu tidur lebih singkat lebih menguntungkan bagi tubuh? Ataukah hal tersebut hanya mitos semata?

Edukator sekaligus pelatih dan pemilih tidur terkemuka Indonesia, Vishal Dasani, dalam unggahan video di akun Instagramnya memberikan gambaran terkait hal tersebut. Menurutnya, jika dibandingkan antara tidur 8 jam dengan deep sleep 1 jam, atau tidur 5 jam tetapi mendapatkan deep sleep hingga 2 jam, jawabannya adalah tidur selama 8 jam meskipun porsi deep sleep terukur lebih pendek.
“Beberapa hari lalu ada yang bertanya ke saya, 'Coach, mana nih yang lebih baik? Tidur delapan jam tapi deep sleep-nya cuma satu jam, atau tidur lima jam tapi deep sleep-nya dua jam?' Saya memilih tidur yang delapan jam tetapi deep sleep-nya cuma satu jam,” kata Vishal, dikutip Rabu (5/8/2026).
Vishal menjelaskan bahwa menganggap deep sleep sebagai satu-satunya fase penting dalam tidur adalah kekeliruan yang perlu diluruskan. Menurutnya, tubuh manusia memerlukan seluruh rangkaian siklus tidur secara utuh, bukan hanya berfokus pada satu fase saja.
“Kita tidak tidur hanya untuk mendapatkan deep sleep. Tubuh kita membutuhkan satu paket tidur yang lengkap. Ada light sleep, deep sleep, dan REM sleep-nya. Masing-masing punya porsi dan fungsi yang berbeda, tetapi mereka sama pentingnya dan saling melengkapi," jelas dia.