JAKARTA — Isu yang menyebut olahraga lari, terutama maraton, dapat memicu terbentuknya plak pada pembuluh darah jantung ramai diperbincangkan di media sosial. Meski sejumlah penelitian memang menemukan adanya hubungan antara olahraga ketahanan (endurance) dan peningkatan plak, dokter mengingatkan bahwa temuan tersebut tidak serta-merta berarti risiko serangan jantung ikut meningkat.
Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan bahwa hasil sejumlah penelitian perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
"Akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan mengenai efek lari, terutama maraton, dengan munculnya plak pada jantung. Memang betul ada beberapa penelitian ilmiah terkait hal tersebut dan hasilnya sangat menarik. Yuk kita bahas!" kata dr. Adam, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, plak merupakan penumpukan kolesterol dan zat lain pada pembuluh darah. Jika terus bertambah, plak dapat mempersempit aliran darah sehingga jaringan tubuh kekurangan oksigen dan nutrisi.
"Plak sederhananya adalah penumpukan kolesterol dan komponen lain di pembuluh darah. Bila plak semakin banyak dan menebal, maka dapat mempersempit aliran darah yang menyebabkan sel kekurangan oksigen dan nutrisi. Plak yang menumpuk di pembuluh darah jantung meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung," jelasnya.
Dr. Adam mengatakan, beberapa penelitian memang menemukan jumlah plak yang lebih tinggi pada individu yang rutin menjalani olahraga endurance dibandingkan kelompok yang tidak melakukan aktivitas serupa.
Salah satunya adalah penelitian berjudul Lifelong Endurance Exercise and Its Relation with Coronary Atherosclerosis yang dipublikasikan dalam European Heart Journal. Penelitian tersebut melibatkan sekitar 550 peserta yang dibagi menjadi tiga kelompok, yakni atlet endurance sejak usia muda, atlet yang mulai berlatih setelah usia 30 tahun, serta kelompok orang dewasa sehat yang bukan atlet.
"Penelitian ini menemukan bahwa orang yang rutin melakukan olahraga endurance terbukti memiliki risiko mempunyai lebih dari satu plak di pembuluh darah jantung sebesar 86 persen lebih tinggi dibandingkan orang dewasa sehat yang tidak rutin melakukan olahraga endurance," terang dr. Adam.
Temuan serupa juga dilaporkan dalam penelitian berjudul Increased Coronary Artery Plaque Volume Among Male Marathon Runners, yang meneliti kondisi pembuluh darah koroner pada pelari maraton pria.
"Penelitian pada pelari maraton ini juga menemukan bahwa pelari maraton memiliki volume plak di pembuluh darah jantung yang lebih tinggi. Namun, diameter pembuluh darahnya tidak menyempit secara signifikan," tambahnya.
Meski demikian, penelitian lain bertajuk Coronary Atherosclerosis Burden, but Not Transient Troponin Elevation, Predicts Long-term Outcome in Recreational Marathon Runners menunjukkan hasil yang berbeda. Studi terhadap 108 pelari maraton tersebut menemukan bahwa keberadaan plak yang lebih banyak tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung maupun kematian.
"Penelitian pada 108 pelari maraton ini menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung dan kematian tidak berbeda signifikan dengan orang dewasa sehat meskipun memiliki plak pada pembuluh darah jantung yang lebih banyak," ungkap dr. Adam.
Ia menjelaskan, ada dua dugaan mekanisme yang dapat memicu terbentuknya plak pada olahraga ketahanan, yakni stres berulang pada pembuluh darah serta peningkatan inflamasi sementara setelah aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
"Olahraga endurance, termasuk lari, dapat menyebabkan stres berulang pada pembuluh darah jantung yang berujung pada peningkatan plak. Selain itu, lari, terutama maraton, dapat meningkatkan inflamasi sementara sehingga diduga ikut berkontribusi terhadap pembentukan plak," tuturnya.
Meski demikian, dr. Adam menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Berdasarkan bukti ilmiah yang ada, olahraga endurance tetap dikaitkan dengan manfaat kesehatan yang lebih besar, termasuk peningkatan harapan hidup.
"Meskipun plak pembuluh darah jantung ditemukan lebih banyak pada pelari, tidak terbukti terdapat peningkatan angka serangan jantung maupun kematian secara umum. Malah olahraga endurance, termasuk lari, diketahui berasosiasi dengan peningkatan usia harapan hidup," tegasnya.
Sebagai penutup, ia mengimbau masyarakat tetap menjalani gaya hidup aktif dan tidak langsung menyimpulkan bahwa olahraga lari berbahaya hanya berdasarkan temuan mengenai plak pada pembuluh darah.
"Kesimpulannya, olahraga endurance, termasuk lari, memang berasosiasi dengan peningkatan risiko munculnya plak pada pembuluh darah jantung. Namun, kondisi tersebut tidak berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung maupun kematian. Justru lari merupakan salah satu olahraga yang dapat meningkatkan usia harapan hidup," pungkas dr. Adam.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.