Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Studi Ungkap Pendekatan Baru dalam Mengelola Berat Badan pada Pasien Skizofrenia

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Selasa, 21 Juli 2026 |16:06 WIB
Studi Ungkap Pendekatan Baru dalam Mengelola Berat Badan pada Pasien Skizofrenia
Studi Ungkap Pendekatan Baru dalam Mengelola Berat Badan pada Pasien Skizofrenia (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Penanganan pasien skizofrenia kini tidak lagi hanya berfokus pada pengendalian gejala kejiwaan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan metabolik pasien, termasuk mengatasi obesitas dan gangguan gula darah yang kerap muncul sebagai efek penggunaan obat antipsikotik. Pendekatan ini dinilai dapat membantu meningkatkan kualitas hidup sekaligus menurunkan risiko komplikasi penyakit kronis.

Perubahan pendekatan tersebut didukung oleh semakin banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa keberhasilan terapi skizofrenia tidak hanya ditentukan oleh stabilitas kondisi mental, tetapi juga kemampuan menjaga kesehatan fisik pasien. Berat badan berlebih, prediabetes, diabetes melitus, hingga gangguan profil lemak darah menjadi faktor yang perlu dipantau secara rutin karena dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Perspektif tersebut diperkuat oleh hasil uji klinis acak yang dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry. Penelitian berjudul Semaglutide Treatment of Antipsychotic-Treated Patients With Schizophrenia, Prediabetes, and Obesity: The HISTORI Randomized Clinical Trial menunjukkan bahwa penggunaan semaglutide pada pasien skizofrenia dengan prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan mampu memperbaiki kondisi metabolik tanpa menyebabkan perburukan gejala kejiwaan selama masa penelitian.

Temuan ini memberikan gambaran baru bahwa pengelolaan kesehatan fisik dapat diintegrasikan ke dalam perawatan pasien dengan gangguan jiwa berat.

Berat Badan Menjadi Bagian Penting dari Terapi

Kenaikan berat badan merupakan salah satu tantangan yang sering dialami pasien yang menjalani terapi antipsikotik generasi kedua. Selain dipengaruhi perubahan pola makan dan aktivitas fisik, beberapa jenis antipsikotik diketahui dapat memengaruhi metabolisme tubuh sehingga meningkatkan risiko obesitas.

Dalam praktik klinis, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kepatuhan pasien terhadap pengobatan serta meningkatkan risiko komplikasi penyakit kronis.

Karena itu, berbagai organisasi kesehatan internasional menganjurkan agar pemantauan berat badan, kadar gula darah, tekanan darah, dan profil lipid menjadi bagian dari evaluasi rutin pasien skizofrenia.

Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry melibatkan 154 pasien berusia 18–60 tahun yang didiagnosis skizofrenia atau gangguan terkait. Seluruh peserta menjalani terapi antipsikotik generasi kedua serta memiliki prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan.

Peserta dibagi secara acak ke dalam kelompok yang menerima semaglutide dosis 1 miligram dan kelompok plasebo selama 30 minggu. Selama penelitian berlangsung, terapi antipsikotik yang dijalani peserta tetap dipertahankan sehingga peneliti dapat menilai dampak intervensi terhadap kondisi metabolik tanpa mengubah penanganan utama gangguan kejiwaan.

Hasil Penelitian

Pada akhir penelitian, kelompok yang menerima semaglutide mengalami penurunan berat badan rata-rata sebesar 9,21 kilogram. Selain itu, kadar HbA1c turun sebesar 0,46 persen yang menunjukkan perbaikan dalam pengendalian gula darah.

Penelitian juga melaporkan bahwa 81 persen peserta pada kelompok semaglutide berhasil mencapai kadar HbA1c normal di bawah 5,7 persen, dibandingkan hanya 19 persen pada kelompok plasebo.

Selain penurunan berat badan dan perbaikan kadar gula darah, peneliti juga menemukan peningkatan profil lipid, seperti naiknya kadar kolesterol HDL dan turunnya kadar trigliserida. Kualitas hidup fisik para peserta pun dilaporkan mengalami peningkatan.

Gejala Kejiwaan Tetap Stabil

Salah satu aspek penting yang diamati dalam penelitian ini adalah keamanan terapi terhadap kondisi psikiatri pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang menerima semaglutide tidak mengalami perburukan gejala skizofrenia maupun penurunan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental selama masa observasi.

Temuan tersebut memberikan keyakinan bahwa penanganan gangguan metabolik pada kelompok pasien yang diteliti dapat dilakukan tanpa mengganggu stabilitas terapi gangguan jiwa yang telah berjalan.

Menurut para peneliti, hasil studi ini semakin menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam pelayanan kesehatan jiwa. Penanganan pasien skizofrenia tidak hanya melibatkan psikiater, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dengan dokter penyakit dalam atau endokrinolog, ahli gizi, perawat, psikolog, serta tenaga kesehatan lainnya sesuai kebutuhan.

Pendekatan tersebut bertujuan memastikan kesehatan mental dan fisik pasien ditangani secara seimbang sehingga risiko komplikasi metabolik dapat ditekan tanpa mengurangi efektivitas terapi utama.

Meski memberikan hasil yang menjanjikan, peneliti mengingatkan bahwa studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Penelitian hanya melibatkan pasien skizofrenia yang menggunakan antipsikotik generasi kedua serta mengalami prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan. Karena itu, hasilnya belum dapat digeneralisasikan untuk seluruh pasien skizofrenia.

Selain itu, durasi penelitian selama 30 minggu dinilai masih memerlukan tindak lanjut untuk mengevaluasi manfaat dan keamanan penggunaan semaglutide dalam jangka panjang.

Peneliti juga menegaskan bahwa studi ini tidak mengevaluasi semaglutide sebagai terapi untuk mengobati skizofrenia, melainkan sebagai intervensi guna memperbaiki kondisi metabolik pada pasien yang menjalani pengobatan antipsikotik.

Di Indonesia, zat aktif semaglutide dipasarkan oleh Novo Nordisk melalui dua produk dengan indikasi berbeda, yaitu Ozempic untuk terapi diabetes melitus tipe 2 dan Wegovy untuk manajemen berat badan sesuai indikasi yang telah disetujui. Penggunaannya merupakan obat resep yang hanya boleh diberikan berdasarkan penilaian dan pengawasan tenaga kesehatan.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan pasien skizofrenia semakin mengarah pada pendekatan yang lebih komprehensif, dengan kesehatan mental dan kesehatan fisik dipandang sebagai dua aspek yang saling berkaitan dan perlu ditangani secara bersamaan.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement