Menurutnya, semakin tinggi suhu makanan dan semakin lama makanan bersentuhan dengan wadah, semakin besar pula kemungkinan senyawa kimia berpindah ke dalam makanan.
"Piring plastik biasa dan piring melamin itu bahannya beda, tapi punya satu risiko yang mirip. Ketika terkena panas, minyak, atau makanan asam, sebagian senyawa dari materialnya bisa berpindah ke makanan. Proses ini namanya migrasi bahan kimia. Semakin panas dan semakin lama kontak makanannya, peluang berpindahnya zat dari piring ke makanan bisa semakin meningkat," jelasnya.
Bang Sap juga menyebut sejumlah lembaga internasional, seperti Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat dan German Federal Institute for Risk Assessment (BfR), telah memberikan peringatan terkait penggunaan wadah melamin untuk kondisi tertentu.
Menurutnya, wadah melamin tidak disarankan digunakan di dalam microwave atau untuk makanan yang sangat panas maupun kondisi ekstrem lainnya.
"Beberapa lembaga pangan seperti FDA (Amerika Serikat) dan BfR Jerman juga sudah mengingatkan, melamin tidak disarankan untuk microwave, makanan sangat panas, atau kontak dengan kondisi ekstrem," tambahnya.
Ia menjelaskan, pada wadah berbahan melamin terdapat potensi migrasi senyawa melamin dan formaldehida. Sementara pada wadah plastik, risiko yang dapat muncul adalah perpindahan zat aditif plastik serta pelepasan partikel mikroplastik ke dalam makanan.