Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Studi: Olahraga Hanya saat Weekend Bisa Turunkan Risiko Kematian hingga 30 Persen

Niko Prayoga , Jurnalis-Senin, 13 Juli 2026 |18:02 WIB
Studi: Olahraga Hanya saat Weekend Bisa Turunkan Risiko Kematian hingga 30 Persen
Ilustrasi olahraga saat weekend. (Foto: dok Freepik/jcomp)
A
A
A

JAKARTA – Padatnya jadwal kerja dari Senin hingga Jumat kerap jadi alasan utama bagi para pekerja urban untuk melewatkan aktivitas fisik atau olahraga. Namun, walaupun berolahraga hanya di hari weekend rupanya tetap memberikan manfaat bagi tubuh. 

Dokter sekaligus influencer kesehatan Adam Prabata dalam unggahan di akun Threads miliknya menuliskan, tak ada alasan sibuk kerja untuk berolahraga sebab dalam beberapa penelitian olahraga di akhir pekan tetap memberikan manfaat kesehatan yang cukup signifikan. 

Ia merujuk pada sebuah penelitian berskala besar yang melibatkan 63.591 orang sebagai sampel. Hasil studi bertajuk Association of Weekend Warrior and Other Leisure Time Physical Activity Patterns With Risks for All-Cause, Cardiovascular Disease, and Cancer Mortality tersebut menunjukkan temuan yang mengejutkan terkait penurunan risiko penyakit mematikan dalam aktivitas berolahraga di akhir pekan. 

"Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang hanya bisa olahraga pada weekend memiliki risiko kematian lebih tinggi sekitar 30 persen lebih rendah, dan risiko kematian akibat penyakit jantung sekitar 40 persen lebih rendah, dibanding orang yang nggak aktif olahraga sama sekali," kata dr. Adam, dikutip Senin (13/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa efektivitas penurunan risiko kematian ini ternyata setara dengan mereka yang membagi jadwal olahraganya secara rutin di hari kerja. Kunci utamanya bukan pada seberapa sering frekuensinya, melainkan pada pemenuhan total durasi akumulatif dalam sepekan.

“Manfaat ini didapatkan pada orang yang tetap memenuhi minimal 150 menit olahraga sedang per minggu. Nah ternyata penurunan risiko kematian ini mirip sama orang yang olahraganya rutin disebar tiga sesi atau lebih per minggu,” ucap dr. Adam.

“Artinya sebenarnya yang utama adalah total durasi per minggu yang dihabiskan untuk olahraga sekitar 150 menit intensitas sedang atau 75 menit intensitas tinggi per minggu. Mau lo cicil tiap hari, atau lo bantai dalam dua sesi panjang di akhir pekan, efeknya akan tetap ada," tuturnya.

Meski demikian, dr. Adam tetap memberikan catatan kritis bagi masyarakat yang ingin mencobanya. Mengakumulasikan seluruh beban fisik dalam satu atau dua hari tanpa persiapan yang matang justru berpotensi memicu masalah kesehatan baru, terutama cedera otot atau sendi.

“Hati-hati!! Memadatkan semua beban di 1–2 hari, apalagi kalau lo jarang gerak dari nol dan langsung all out, punya risiko cedera yang lebih tinggi,” tegas dia.

Maka dari itu, ia menekankan bahwa kesibukan profesional di perkantoran seharusnya tidak lagi menjadi pembenaran untuk menjalani gaya hidup tidak aktif sedentary lifestyle.

“Kesimpulan: Kerja Senin-Jumat bukan alasan untuk gak olahraga sama sekali. Menyempatkan olahraga saat weekend dapat tetap bermanfaat bagi kesehatan kalian," pungkas dia.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement