Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

French Paradox, Rahasia Orang Prancis Jaga Jantung Tetap Sehat

Mei Sada Sirait , Jurnalis-Senin, 06 Juli 2026 |19:07 WIB
French Paradox, Rahasia Orang Prancis Jaga Jantung Tetap Sehat
Ilustrasi jantung sehat. (Foto: dok Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Kebiasaan makan masyarakat Eropa terutama Prancis yang dikenal sering mengonsumsi makanan seperti keju, roti, hingga wine umumnya dikaitkan dengan penyakit jantung. Namun di Prancis, angka penyakit jantung justru tergolong rendah dibanding negara lain.

Hal ini dikenal sebagai fenomena French Paradox. Sebuah akun X @0xZiia membahas soal fenomena ini.

“Orang Prancis sarapan roti, makan keju tiap hari, minum wine, jarang ke gym. Tapi angka penyakit jantung mereka salah satu yang terendah di dunia. Peneliti nyebutnya French Paradox. Rahasianya bukan di menu, tapi di kebiasaan makan,” tulis akun tersebut.

Menurut utas itu, salah satu kebiasaan yang paling berpengaruh adalah porsi makan yang relatif kecil. Masyarakat Prancis memang tidak menjalani diet ketat, namun mereka terbiasa menyantap makanan dalam jumlah yang wajar sejak awal.

“Kebiasaan pertama, porsi kecil dan mereka gak nambah. Croissant di Paris ukurannya sekitar setengah dari yang dijual di mall Jakarta. Mereka gak diet, porsinya aja yang dari awal masuk akal,” lanjutnya.

Selain itu, budaya makan di Prancis juga berbeda. Waktu makan dimanfaatkan untuk duduk santai dan berbincang, bukan dilakukan terburu-buru atau sambil melakukan aktivitas lain. Pasalnya, otak memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk mengirimkan sinyal kenyang.

“Kebiasaan kedua, makan itu acara bukan sambilan. Makan siang orang Prancis bisa satu jam, duduk, ngobrol, gak buru-buru. Otak butuh sekitar 20 menit buat ngirim sinyal kenyang. Makan cepet artinya udah kebanyakan duluan sebelum sinyalnya nyampe,” tulisnya.

Selain itu, masyarakat Prancis juga tidak memiliki kebiasaan ngemil di antara waktu makan. Setelah selesai makan, masyarakat Prancis jarang mengonsumsi camilan sehingga tubuh memiliki jeda untuk mengatur kadar insulin.

“Kebiasaan ketiga, gak ada budaya ngemil. Abis makan ya selesai, gak ada keripik jam 3 atau boba jam 5. Efeknya insulin dapet jeda istirahat berjam-jam, sementara insulin yang naik turun nonstop seharian itu jalan tol ke resistensi insulin,” jelasnya.

Tak hanya soal pola makan, aktivitas fisik sehari-hari juga disebut menjadi salah satu faktor penting. Orang Prancis lebih banyak berjalan kaki untuk beraktivitas dibanding menjadikan olahraga sebagai satu-satunya cara membakar kalori.

“Kebiasaan keempat, jalan kaki itu transportasi bukan olahraga. Ke toko roti jalan, ke stasiun jalan, naik tangga. Kalori yang kebakar dari gerakan kecil seharian seringkali lebih gede dari satu sesi gym,” tulis akun tersebut.

Untuk itu, masyarakat Indonesia pun dianggap bisa meniru hal yang sama untuk menekan angka penyakit jantung. Tak harus hidup di Prancis, namun cukup dari hal-hal sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari.

Seperti makan dengan porsi kecil, menerapkan makan tanpa layar atau distraksi minimal 20 menit, berhenti ngemil di antara jam makan, dan melakukan aktivitas fisik seperti jalan kaki.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement