GANGGUAN tidur tidak hanya berupa sulit tidur atau insomnia. Ada pula kondisi yang membuat seseorang mengalami rasa kantuk yang berlebihan sepanjang hari, bahkan hingga tertidur secara tiba-tiba saat sedang beraktivitas.
Kondisi ini dikenal sebagai narkolepsi, yaitu gangguan neurologis yang memengaruhi kemampuan otak dalam mengatur siklus tidur dan bangun. Meski tergolong jarang, narkolepsi dapat berdampak besar terhadap aktivitas sehari-hari, keselamatan, serta kualitas hidup penderitanya.

Oleh karena itu, memahami penyebab, gejala, dan cara penanganan narkolepsi menjadi langkah penting agar kondisi ini dapat dikenali sejak dini dan dikelola dengan tepat. Berikut Okezone ulas mendalam soal narkolepsi.
Dilansir dari Harvard, narkolepsi adalah gangguan neurologis kronis yang memengaruhi kemampuan otak dalam mengatur siklus tidur dan bangun. Kondisi ini menyebabkan penderitanya mengalami rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari, bahkan ketika telah tidur cukup pada malam sebelumnya.
Narkolepsi merupakan salah satu penyebab utama kantuk kronis dan diperkirakan dialami oleh sekitar 1 dari 2.000 orang. Penyakit ini umumnya mulai muncul pada usia remaja, yaitu antara 10 hingga 20 tahun, meskipun pada beberapa kasus dapat berkembang pada usia yang lebih dewasa.
Narkolepsi dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Jumlah angka kejadian antara laki-laki dan perempuan hampir sama.
Meskipun merupakan kondisi seumur hidup, narkolepsi dapat dikelola dengan baik melalui pengobatan dan perubahan gaya hidup. Alhasil, penderitanya tetap dapat menjalani kehidupan yang aktif dan produktif.
Gejala narkolepsi biasanya berkembang secara bertahap selama beberapa bulan dan berlangsung dalam jangka panjang. Beberapa gejala yang paling umum meliputi beberapa hal berikut ini:
1. Kantuk berlebihan pada siang hari (Excessive Daytime Sleepiness/EDS).
Penderita sering merasa sangat mengantuk dan dapat tertidur secara tiba-tiba, bahkan saat sedang bekerja, belajar, berbicara, atau beraktivitas.
2. Katapleksi (cataplexy)
Episode kelemahan otot yang muncul secara tiba-tiba akibat emosi yang kuat, seperti tertawa, terkejut, marah, atau merasa sangat senang. Tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari kelopak mata yang terasa lemas hingga tubuh kehilangan kekuatan dan menyebabkan penderita terjatuh.
3. Halusinasi saat akan tidur atau bangun
Penderita dapat mengalami pengalaman seperti mimpi yang terasa sangat nyata ketika mulai tertidur atau saat baru terbangun.
Kondisi ketika seseorang tidak mampu menggerakkan tubuh atau berbicara selama beberapa detik hingga beberapa menit saat akan tidur atau baru bangun.
Meskipun mudah mengantuk di siang hari, penderita sering mengalami tidur malam yang terputus-putus dan sering terbangun.

Pada penderita narkolepsi, batas antara kondisi terjaga dan tidur menjadi tidak jelas. Akibatnya, unsur-unsur tidur REM dapat muncul ketika seseorang masih terjaga atau baru mulai tertidur. Hal inilah yang menyebabkan munculnya gejala seperti halusinasi, kelumpuhan tidur, serta katapleksi.
Selain itu, pola tidur penderita menjadi tidak stabil. Mereka dapat tertidur secara tiba-tiba pada siang hari, tetapi justru mengalami tidur malam yang sering terbangun dan kurang berkualitas.
Hingga saat ini belum tersedia terapi yang dapat menyembuhkan narkolepsi secara total. Namun, berbagai pilihan pengobatan mampu membantu mengendalikan gejala sehingga kualitas hidup penderita dapat tetap terjaga.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.