JAKARTA – Tren ngopi di kalangan Generasi Z (Gen Z) tak hanya menjadi bagian dari gaya hidup, tetapi juga disebut memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan konsumsi minuman beralkohol. Penilaian ini didasarkan pada perbedaan jejak lingkungan (environmental footprint) sepanjang proses produksi hingga distribusi kedua jenis minuman tersebut.
Praktisi bisnis lingkungan, Bang Sap, dalam unggahan video di akun Instagramnya menjelaskan bahwa setiap jenis minuman memiliki jejak lingkungan masing-masing. Menurutnya, dampak tersebut tidak hanya diukur dari produk akhirnya, tetapi juga mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari bahan baku, penggunaan energi, kemasan, transportasi, hingga limbah yang dihasilkan.
"Minuman apa pun, kopi, bir, wine, punya jejak lingkungan masing-masing. Dan cara mengukurnya bukan dari produknya saja, tapi dari seluruh prosesnya, bahan baku, energi, kemasan, transportasi, sampai limbah akhirnya," kata Bang Sap.
Ia menjelaskan, salah satu alasan minuman beralkohol dinilai kurang ramah lingkungan adalah penggunaan botol kaca sebagai kemasan. Selain membutuhkan energi lebih besar untuk diproduksi, botol kaca juga lebih berat sehingga meningkatkan emisi selama proses distribusi.
"Sebagian besar diimpor dari jauh, lalu harus disimpan dalam kondisi dingin sepanjang perjalanan, mulai dari pabrik, gudang, sampai ke bar. Belum sempat dituang, jejak energinya sudah menumpuk," tuturnya.
Sebaliknya, Bang Sap menilai budaya minum kopi, khususnya kopi lokal, cenderung memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah. Kopi umumnya diseduh langsung di tempat, disajikan menggunakan gelas yang dapat dipakai berulang kali, serta banyak menggunakan biji kopi dari petani lokal.
"Bandingkan dengan budaya kopi lokal, diseduh langsung di tempat, disajikan di gelas yang dipakai berulang, bahan bakunya pun banyak yang datang dari petani dalam negeri. Kopi memang punya dampak juga buat lingkungan, hanya saja rantainya jauh lebih pendek dan jauh lebih ringan," tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa (WHO) juga menyatakan tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang benar-benar aman bagi kesehatan.
"Dari sisi kesehatan, WHO juga menyebut tidak ada level konsumsi alkohol yang benar-benar aman untuk kesehatan. Sementara dari sisi lingkungan, kajian life cycle assessment menunjukkan bahwa minuman tidak bisa dinilai hanya dari produknya, tetapi dari seluruh prosesnya, bahan baku, energi, kemasan, transportasi, dan pola konsumsi," jelasnya.
Karena itu, Bang Sap menilai perubahan menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, termasuk dalam memilih jenis minuman yang dikonsumsi.
"Perubahan lingkungan yang besar sering kali bukan lahir dari kebijakan, melainkan dari kebiasaan kecil yang bergeser, seperti gaya hidup Gen Z ini," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.