Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Tradisi Cuci Keris Pusaka di Malam 1 Suro

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Rabu, 17 Juni 2026 |15:15 WIB
Mengenal Tradisi Cuci Keris Pusaka di Malam 1 Suro
Mengenal Tradisi Cuci Keris Pusaka di Malam 1 Suro (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Malam satu Suro menjadi salah satu momen yang dianggap istimewa dalam tradisi masyarakat Jawa. Bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah, malam tersebut kerap diisi berbagai ritual budaya yang diwariskan secara turun-temurun, mulai dari kirab pusaka, pawai obor, hingga tradisi menjamas atau membersihkan keris pusaka.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, keris bukan hanya sekadar senjata tradisional. Benda pusaka ini memiliki nilai sejarah, filosofi, seni, dan budaya yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, perawatan keris dilakukan secara khusus, salah satunya melalui ritual pencucian yang biasanya digelar saat malam 1 Suro.

Dalam dunia perkerisan, keris dikenal memiliki dua aspek utama, yakni aspek eksoteris dan esoteris. Aspek eksoteris berkaitan dengan bentuk fisik keris, seperti pamor, desain, teknik pembuatan, hingga nilai estetikanya. Sementara aspek esoteris lebih mengarah pada makna simbolis, filosofi, dan nilai spiritual yang dipercaya melekat pada pusaka tersebut.

Tradisi menjamas keris dipercaya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus upaya merawat kondisi fisik pusaka agar tetap terjaga. Proses ini juga menjadi momentum untuk mengenang para empu atau pembuat keris yang telah mewariskan karya-karya bersejarah kepada generasi berikutnya.

Peralatan untuk Menjamas Keris

Dalam tradisi perawatan keris, terdapat sejumlah perlengkapan yang biasa digunakan. Salah satunya adalah wadah berisi air yang digunakan untuk membersihkan bilah keris.

Selain itu, bunga setaman yang terdiri dari bunga melati, mawar merah, mawar putih, kenanga, dan kantil kerap dicampurkan ke dalam air sebagai bagian dari tradisi. Beberapa orang juga menggunakan dupa atau kemenyan saat prosesi berlangsung.

Untuk membersihkan karat atau noda pada bilah keris, biasanya digunakan belimbing wuluh atau jeruk nipis. Setelah proses pembersihan selesai, keris kemudian diberi lapisan minyak khusus, seperti minyak cendana, minyak melati, minyak seribu bunga, atau minyak jamas agar bilah tetap terawat dan tidak mudah berkarat.

Kain mori atau kain kafan juga kerap digunakan untuk membungkus kembali keris yang telah dibersihkan sebelum disimpan di tempatnya.

Menurut pecinta dan kolektor keris sepuh, Raden Ridwan Yusuf, tata cara tersebut merupakan warisan yang telah lama diajarkan para empu dalam merawat pusaka.

"Itu merupakan bagian dari tradisi perawatan keris yang diwariskan secara turun-temurun oleh para empu dan leluhur," ujarnya.

Filosofi di Balik Keris Pusaka

Raden Ridwan menjelaskan bahwa pada masa lalu, pembuatan keris sering kali disesuaikan dengan kebutuhan pemiliknya. Seorang petani, misalnya, dapat memesan keris yang melambangkan harapan akan hasil panen yang melimpah. Sementara bagi kalangan bangsawan atau raja, keris dibuat dengan simbol-simbol yang mencerminkan kepemimpinan, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat.

Salah satu keris yang dianggap istimewa olehnya adalah keris berdapur Singobarong yang merupakan peninggalan kerajaan. Keris tersebut memiliki pamor yang sarat makna, melambangkan keberanian, kebijaksanaan, serta harapan agar pemimpin mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Warisan Budaya yang Harus Dijaga

Di luar berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, keris memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Bahkan, keris telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia.

Karena itu, pelestarian keris tidak hanya dilakukan melalui perawatan benda pusakanya, tetapi juga dengan menjaga pengetahuan, filosofi, dan tradisi yang menyertainya. Saat ini, banyak empu muda yang masih aktif membuat keris kamardikan sebagai upaya mempertahankan warisan budaya Nusantara.

Menurut Raden Ridwan, keris-keris tua yang memiliki nilai sejarah tinggi sebaiknya tetap dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

"Keris bukan hanya benda pusaka, tetapi juga warisan sejarah dan budaya yang nilainya sangat berharga bagi generasi mendatang," tutupnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement