JAKARTA - Kebiasaan melewatkan sarapan kerap dipilih sebagian orang yang menjalani diet intermittent fasting. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidak sarapan secara rutin dapat berdampak pada metabolisme gula darah dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan tertentu, termasuk prediabetes.
Hal tersebut disampaikan oleh dokter dan edukator kesehatan, Adam Prabata, melalui akun media sosial X. Menurutnya, melewatkan sarapan memang sering dijadikan strategi untuk mengurangi asupan kalori harian guna menjaga atau menurunkan berat badan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa metode tersebut tidak cocok untuk semua orang.
“Skip breakfast TIDAK UNTUK SEMUA ORANG,” tulis Adam dalam unggahannya.
Dr. Adam menjelaskan, sejumlah studi menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan tidak sarapan dan meningkatnya risiko gangguan metabolisme gula darah. Salah satunya adalah penelitian di Korea Selatan yang melibatkan sekitar 12.000 responden.