Fenomena ini juga berkaitan dengan meningkatnya kesepian emosional pada anak dan remaja. Kesepian emosional berbeda dengan kesepian secara fisik. Seorang anak bisa saja hidup di lingkungan yang ramai, memiliki keluarga, teman, dan aktivitas yang banyak, tetapi tetap merasa sendirian karena tidak ada yang memahami perasaannya.
Ketika anak merasa emosinya tidak diterima atau tidak dipahami, mereka dapat mengembangkan keyakinan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti apa yang sedang mereka alami. Perasaan tersebut membuat mereka mencari tempat yang dianggap lebih aman untuk berbagi cerita.
Dalam kondisi seperti itu, AI hadir sebagai alternatif yang mudah diakses. Bahasa yang digunakan chatbot cenderung tidak menghakimi dan lebih fokus pada validasi emosi. Hal ini membuat anak merasa memiliki seseorang yang mendengarkan dan memahami mereka.
“AI itu jago banget kalau anak curhat divalidasi dulu emosinya, ‘Oh saya mengerti perasaan kamu.’ Itu yang enggak ada di orangtua kadang-kadang. Orangtua tuh langsug ngejudge, “Ah kamu gitu aja dipikirin.’ Yang membuat anak sepi secara hubungan emosional, sepi karena enggak ada yang ngerti perasaan dia. Karena ketika anak tidak dipahami perasaannya, mereka akan merasa hanya dia yang mengerti perasaanya dia gitu. Dunia ini enggak ada yang ngerti merasakan getirnya hidup. Penderitaan itu hanya dia yang merasakan,”
Meski demikian, Sani mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan fungsi hubungan antarmanusia. Hubungan dengan orang tua, keluarga, guru, dan teman tetap memiliki peran penting dalam perkembangan sosial serta emosional anak.
Interaksi dengan manusia mengajarkan anak berbagai keterampilan yang tidak bisa diperoleh dari AI, seperti empati, komunikasi dua arah, penyelesaian konflik, hingga kemampuan membangun hubungan yang sehat.
Karena itu, orangtua dan orang dewasa di sekitar anak perlu memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan anak saat mereka bercerita. Dalam banyak kasus, anak tidak selalu menginginkan solusi instan atau nasihat panjang. Mereka hanya ingin didengarkan dan dipahami terlebih dahulu.
Sani menilai kemampuan mendengarkan secara aktif dan memvalidasi perasaan anak menjadi kunci agar mereka tetap merasa nyaman berbagi cerita dengan orang-orang terdekat. Ketika anak merasa aman secara emosional, kebutuhan untuk mencari pengganti hubungan tersebut melalui AI akan berkurang.
“AI dengan bahasa-bahasa yang validatif membuat anak merasa nyaman, ada yang ngerti. Nah itu kecanggihan AI itu sendiri. Ya mestinya orangtua juga belajar, sehingga kita orang dewasa, guru, om, tante, mengerti apa yang anak harapkan sehingga tidak menggantikan kita nih dengan AI,” tutup Sani.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.