JAKARTA - Pelukan sering dianggap sebagai bentuk dukungan sederhana yang dapat membuat seseorang merasa lebih tenang saat menghadapi tekanan. Kini, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kontak fisik seperti pelukan memang berpotensi membantu menurunkan respons stres dalam tubuh.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health meneliti hubungan antara kebiasaan berpelukan dan kadar hormon stres pada manusia. Penelitian tersebut dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh peneliti Chelsea E. Romney dari Departemen Psikologi Universitas Brigham Young, Amerika Serikat.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 112 mahasiswa dilibatkan sebagai responden. Para peserta diminta melaporkan aktivitas berpelukan mereka melalui pesan teks yang dikirim beberapa kali dalam sehari selama periode penelitian.
Metode yang digunakan dikenal sebagai Ecological Momentary Assessment (EMA), yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung saat aktivitas berlangsung. Melalui metode ini, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kebiasaan sehari-hari para peserta.
Selain itu, peserta juga diminta memberikan sampel air liur setelah bangun tidur dan 30 menit kemudian. Sampel tersebut digunakan untuk mengukur kadar kortisol, hormon yang berkaitan dengan respons stres.
Kortisol memiliki pola alami yang meningkat pada pagi hari setelah seseorang bangun tidur. Peningkatan ini dikenal sebagai Cortisol Awakening Response (CAR), yang dipercaya membantu tubuh mempersiapkan diri menghadapi aktivitas dan tantangan sepanjang hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang lebih sering berpelukan cenderung memiliki CAR yang lebih rendah keesokan harinya dibandingkan mereka yang jarang berpelukan. Temuan tersebut tetap terlihat meskipun peneliti memperhitungkan faktor lain seperti jenis kelamin dan frekuensi rata-rata pelukan yang diterima peserta.
Para peneliti menduga bahwa pelukan dapat berfungsi sebagai sinyal biologis yang memberikan rasa aman. Ketika seseorang merasa didukung dan memiliki kedekatan emosional dengan orang lain, tubuh mungkin tidak perlu mengaktifkan respons stres secara berlebihan.
Dengan kata lain, kontak fisik yang hangat seperti pelukan dapat membantu mengurangi antisipasi terhadap stres pada hari berikutnya, sehingga kadar hormon stres saat pagi hari menjadi lebih rendah.
Meski demikian, penelitian ini menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan bukti bahwa pelukan secara langsung menjadi satu-satunya penyebab penurunan stres. Faktor lain seperti kualitas hubungan, dukungan sosial, dan kondisi psikologis seseorang juga dapat memengaruhi hasil tersebut.
Namun, temuan ini menambah bukti bahwa interaksi sosial yang positif, termasuk pelukan dari pasangan atau orang terdekat, dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.