JAKARTA - Anggapan bahwa sperma atau air mani yang lebih kental menandakan tingkat kesuburan pria lebih tinggi masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, secara medis, kekentalan sperma tidak selalu berkaitan langsung dengan kualitas maupun kemampuan membuahi sel telur.
Selama ini, masih banyak mitos seputar sperma dan kesuburan pria yang beredar di masyarakat. Mulai dari bentuk, warna, hingga tekstur sperma sering dianggap sebagai penentu utama kesuburan, meski belum tentu sesuai fakta ilmiah.
Secara sederhana, proses reproduksi terjadi ketika sperma yang dikeluarkan melalui penis masuk ke vagina, lalu bergerak menuju sel telur untuk proses pembuahan. Namun, mekanisme tersebut sebenarnya jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan.
Melansir heathline, dalam sejarah ilmu pengetahuan, pemahaman tentang sperma juga sempat dipenuhi teori yang keliru. Ratusan tahun lalu, ilmuwan pernah percaya bahwa di dalam kepala sperma terdapat “manusia mini” yang sudah terbentuk sempurna. Teori tersebut kemudian terbukti tidak benar.
Kini, perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kesuburan pria tidak ditentukan hanya dari tekstur atau kekentalan sperma.