BANYAK orang percaya bahwa ketika rasa nyeri sudah hilang setelah mengonsumsi obat pereda nyeri, maka cedera dianggap sudah sembuh sepenuhnya. Akibatnya, tidak sedikit yang langsung kembali berolahraga dengan intensitas penuh tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh.
Namun, apakah anggapan ini benar? Dokter ortopedi dari Rumah Sakit Columbia, dr. Aldo Fransiskus Marsetio, Sp.OT(K), Subsp. CO (K), memberikan penjalasannya dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Official Okezone.
Menurut penjelasan dr. Aldo, nyeri sebenarnya merupakan sinyal penting dari tubuh yang menandakan adanya gangguan pada otot, sendi, atau jaringan tertentu. Karena itu, hilangnya rasa nyeri tidak selalu berarti proses penyembuhan sudah selesai secara total.
Rasa nyeri muncul sebagai bentuk “alarm” alami tubuh ketika terjadi cedera atau peradangan. Ketika obat pereda nyeri dikonsumsi, gejala memang bisa berkurang, tetapi bukan berarti sumber masalahnya sudah benar-benar pulih.
Dalam banyak kasus, kondisi jaringan otot dan sendi masih membutuhkan waktu untuk kembali ke keadaan optimal meskipun rasa sakit sudah tidak terasa.
“Ya, memang nyeri itu sinyal dari tubuh kita kalau ada sesuatu yang salah ya. Kita nggak boleh meremehkan rasa nyeri,” ujar dr. Aldo.
“Kalau misalnya (kondisi) sudah membaik, memang sudah boleh untuk kembali melakukan aktivitas olahraga. Tapi kadang yang orang lupa adalah, dari masa waktu kita ada nyeri itu kan biasanya istirahat. Istirahat, terus kemudian beberapa hari, dan kemudian mencoba melakukan aktivitas olahraga lagi,” lanjutnya.
“Nah, kadang orang beranggapan kemampuan tubuh kita masih sama pada waktu sebelum kita sakit. Padahal seiring waktu kita istirahat, biasanya ototnya pasti akan berkurang kapasitasnya, kekuatannya pasti akan berkurang. Kemudian seperti tadi sendi-sendinya juga pasti akan menjadi lebih kaku,” jelas dr. Aldo.