Ketua Glaukoma Service JEC Eye Hospitals and Clinics, Widya Artini Wiyogo, menjelaskan bahwa sebagian besar kasus glaukoma tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan.
Menurutnya, masyarakat perlu segera memeriksakan mata apabila mengalami keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri pada mata.
Selain itu, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami glaukoma, antara lain riwayat keluarga dengan penyakit yang sama, diabetes melitus, penggunaan obat steroid dalam jangka panjang, kelainan refraksi tinggi seperti miopia atau hipermetropia, katarak, hingga riwayat cedera pada mata.
Glaukoma juga dapat terjadi pada bayi melalui kondisi yang dikenal sebagai glaukoma kongenital. Berdasarkan data American Academy of Ophthalmology, kasus ini diperkirakan terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 hingga 20.000 kelahiran.
Glaukoma bukanlah satu jenis penyakit tunggal. Terdapat beberapa tipe yang memiliki karakteristik berbeda, antara lain:
1. Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaucoma)
Jenis ini merupakan yang paling umum terjadi. Penyakit berkembang secara perlahan dan sering tidak menimbulkan gejala. Penyempitan penglihatan biasanya dimulai dari bagian tepi sehingga sering tidak disadari hingga memasuki stadium lanjut.