Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Korea Selatan Dikenal Sebagai Salah Satu Negara Rasis di Dunia?

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Jum'at, 13 Februari 2026 |19:27 WIB
Kenapa Korea Selatan Dikenal Sebagai Salah Satu Negara Rasis di Dunia?
Kenapa Korea Selatan Dikenal Sebagai Salah Satu Negara Rasis di Dunia? (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Pertanyaan mengenai mengapa Korea Selatan kerap disebut sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat rasisme tinggi sering muncul dalam berbagai diskusi internasional. Isu ini berkaitan dengan dinamika sosial, sejarah, dan perubahan demografis yang terjadi di negara tersebut.

Perlu dipahami, generalisasi bahwa suatu negara “rasis” tentu tidak mewakili seluruh masyarakatnya. Namun, sejumlah pengamat menilai masih ada tantangan besar terkait penerimaan terhadap keberagaman di Korea Selatan.

Menurut Gi-Wook Shin, akademisi dari Stanford University yang banyak meneliti nasionalisme Korea, terdapat beberapa faktor utama yang memengaruhi fenomena ini.

1. Nasionalisme Kuat dan Konsep Etnis Tunggal

Salah satu faktor utama adalah kuatnya nasionalisme yang berakar pada konsep homogenitas etnis. Selama bertahun-tahun, Korea Selatan memandang dirinya sebagai bangsa yang relatif seragam secara etnis dan budaya.

Konsep ini membuat sebagian masyarakat memandang orang asing atau kelompok minoritas sebagai “orang luar”. Dalam kondisi tertentu, persepsi ini bisa memicu sikap eksklusif atau diskriminatif.

2. Minimnya Pengalaman Multikultural

Korea Selatan baru mengalami peningkatan keberagaman dalam beberapa dekade terakhir, terutama akibat masuknya pekerja migran dan meningkatnya pernikahan antarnegara.

Karena perubahan ini tergolong cepat, proses adaptasi sosial tidak selalu berjalan mulus. Beberapa kalangan menilai pemahaman masyarakat terhadap isu multikulturalisme masih berkembang, sehingga gesekan sosial kadang muncul.

3. Kebijakan dan Sistem Sosial

Meski ada kemajuan dalam isu kesetaraan gender dan hak kelompok tertentu, regulasi khusus yang secara komprehensif melindungi dari diskriminasi rasial dinilai masih terbatas.

Sejumlah akademisi mendorong pembangunan identitas nasional yang lebih inklusif agar mampu menyesuaikan diri dengan realitas masyarakat yang semakin beragam.

4. Pengaruh Sejarah dan Politik

Sejarah Korea Selatan yang diwarnai penjajahan dan konflik turut membentuk identitas nasional yang kuat dan protektif. Penekanan pada persatuan dan kesatuan bangsa menjadi bagian penting dalam pembangunan negara modern.

Namun, dalam konteks globalisasi dan mobilitas manusia yang semakin tinggi, pendekatan tersebut menghadapi tantangan baru.

Anggapan bahwa Korea Selatan memiliki tingkat rasisme tinggi berakar pada kombinasi beberapa faktor: nasionalisme kuat, konsep homogenitas etnis, pengalaman multikultural yang relatif baru, serta kebijakan yang masih berproses menuju sistem yang lebih inklusif.

Meski demikian, perubahan sosial terus berlangsung. Diskusi publik mengenai keberagaman dan inklusivitas juga semakin terbuka dalam beberapa tahun terakhir.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement