Ironisnya, praktik child grooming sering kali tidak disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar. Hal ini terjadi karena pelaku kerap menampilkan diri sebagai sosok yang terlihat peduli, suportif, dan dapat dipercaya.
“Pelaku biasanya ramah, perhatian, mau mendengarkan keluh kesah anak, serta memberikan validasi emosional. Dari luar, ia tampak seperti orang dewasa yang baik. Padahal, di balik itu terdapat motif yang tidak sehat dan berpotensi merusak perkembangan psikologis anak,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Cahyo menjelaskan bahwa korban child grooming berisiko mengalami dampak psikologis jangka panjang. Pada fase awal, anak sering mengalami kebingungan emosional, rasa tidak nyaman, dan konflik batin yang kemudian berkembang menjadi trauma.
“Dalam jangka panjang, korban dapat mengalami penurunan kepercayaan diri, kecemasan berlebih, kesulitan membangun relasi yang sehat, hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Rasa bersalah karena merasa tidak mampu menolak atau melawan sering terbawa hingga korban dewasa,” jelasnya.
Pencegaran Child Grooming
Orangtua dan lingkungan terdekat berperan penting dalam membangun kedekatan emosional yang sehat dengan anak. Kedekatan tersebut menjadi benteng utama agar anak tidak mencari pemenuhan emosional dari pihak luar yang berpotensi berbahaya.
Anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan diri, bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh, serta keberanian untuk mengatakan tidak.
"Dengan pendampingan emosional yang kuat, orang dengan niat tidak baik akan lebih sulit memasuki dunia anak,” pungkasnya.
(Rani Hardjanti)