“Kafein dalam matcha memang dapat meningkatkan kewaspadaan dan fokus, tetapi dengan adanya L-theanine, stimulasi ini terasa lebih lembut dan tidak memicu kegelisahan seperti kopi,” jelas Frame. “L-theanine membantu menciptakan stimulasi yang lebih seimbang, yang sering disebut sebagai calm alertness atau kewaspadaan yang tenang.”
Takaran matcha bisa bervariasi, tetapi penelitian menunjukkan bahwa dosis L-theanine sekitar 200 miligram memberikan efek menenangkan. “Untuk mencapai jumlah tersebut, dibutuhkan sekitar 2–4 gram matcha berkualitas tinggi, setara dengan satu hingga dua porsi,” kata Frame.
Jumlah tersebut umumnya terdapat dalam matcha kualitas upacara, yang dibuat dari daun teh muda sehingga kandungan senyawa aktifnya lebih tinggi.
Frame menambahkan bahwa konsumsi matcha secara rutin dapat membantu menurunkan stres dalam jangka panjang. Meski begitu, sesekali minum matcha pun sudah bisa memberikan efek relaksasi.
Cara penyajian juga berperan penting. Matcha memang sering digunakan dalam makanan penutup, tetapi senyawa EGCG dan L-theanine dapat terurai pada suhu tinggi dan proses memasak yang lama. Oleh karena itu, matcha paling optimal dikonsumsi sebagai minuman.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)