JAKARTA - Daviena Skincare diduga menghapus komentar netizen. Komentar yang hilang tersebut diduga berkaitan dengan produk Daviena Skincare yang dinyatakan mengandung bahan berbahaya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Selebgram sekaligus pengusaha skincare itu tengah menjadi sorotan warganet. Banyak yang mengaku tidak menyangka bahwa produk Daviena Skincare masuk dalam daftar kosmetik berbahaya. Tidak hanya itu, di tengah derasnya komentar negatif, Daviena Skincare juga dinilai tetap gencar melakukan promosi meski produknya telah ditarik oleh BPOM.
“Ka, komentar aku dihapus ya? Aku lihat dari notifikasinya, sekarang nggak ada,” tulis akun nlcikalajh, seperti dikutip Senin (18/1/2026).
Sebagian komentar diketahui menghilang dari unggahan media sosial Daviena. Warganet pun menduga pihak Daviena sengaja menghapus kritik terkait produknya. Hingga berita ini diturunkan, akun media sosial Daviena Skincare masih dihujani komentar negatif dari warganet.
Belum ada pernyataan resmi dari Daviena melalui akun media sosialnya terkait penarikan produk tersebut. Tidak ditemukan unggahan klarifikasi maupun penjelasan terbuka mengenai temuan BPOM, meski produknya ramai diperbincangkan di kolom komentar.
Sebagai informasi, temuan ini merupakan bagian dari pengawasan rutin BPOM terhadap produk kosmetik yang beredar di pasaran. Dari total 26 produk kosmetik berbahaya yang diumumkan, mayoritas diketahui mengandung bahan yang tidak diperbolehkan karena berisiko bagi kesehatan kulit dan tubuh jika digunakan tanpa pengawasan medis.
Dalam daftar temuan BPOM tersebut, Daviena Skincare tercatat berada di urutan pertama produk kosmetik berbahaya yang diidentifikasi. Nama produk tersebut tercantum bersama bahan berbahaya yang ditemukan BPOM berdasarkan hasil pengujian laboratorium berwenang.
Bahan aktif deksametason yang terdeteksi dalam produk tersebut merupakan salah satu jenis kortikosteroid yang dilarang digunakan dalam kosmetik. Penggunaan bahan ini sebagai skincare tanpa resep dan pengawasan dokter berpotensi menimbulkan efek samping serius.
(Rani Hardjanti)