Karena itu, jika memang ada efek biologis yang kuat dari radio frekuensi, ilmuwan seharusnya sudah menemukannya dari studi tentang ponsel jauh sebelum munculnya AirPods. Dr. Jagannathan menyatakan bahwa bukti yang ada tidak menunjukkan hubungan langsung antara paparan RF dari perangkat ini dan kanker otak pada manusia.
Sebelumnya, sempat dilakukan penelitian terhadap hewan ketika tikus diekspos dengan tingkat RF yang sangat tinggi. Namun, Dr. Jagannathan menjelaskan bahwa hasil penelitian pada hewan belum tentu berlaku pada manusia, karena kondisi paparan dan dosis dalam eksperimen tersebut tidak mencerminkan penggunaan nyata sehari-hari.
Selain itu, pola yang muncul dalam uji coba tersebut juga tidak konsisten antar kelompok hewan. Artinya, temuan tersebut tidak dapat dianggap sebagai bukti kuat bahwa RF dapat menyebabkan kanker.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)