LIMA cara untuk ajari anak disiplin tanpa drama ini bisa dicoba loh, moms. Dengan cara ini, mendidik anak soal kedisiplinan bisa lebih mudah.
Anak kerap kali memiliki permintaan yang berlebihan bahkan sulit untuk dipenuhi. Tak ayal, mengajarkan anak soal bersikap disiplin penting dilakukan para orangtua.
Tetapi, disiplin tidak harus berarti berteriak atau membentak. Bila dilakukan dengan benar, disiplin bisa membantu anak merasa aman. Mereka bisa memahaminya dengan mudah dan termotivasi untuk berbuah lebih baik.
Dilansir dari India Times, Jumat (23/5/2025), berikut 5 cara ajari anak disiplin tanpa drama:
Salah satu cara untuk ajari anak disiplin tanpa drama adalah tetap tenang. Sebab, anak-anak akan mencerminkan energi yang ditunjukkan orangtuanya.
Jika Anda kehilangan ketenangan, anak bisa menjadi marah. Jadi, Anda perlu tarik napas dalam-dalam, pelankan suara, dan tanggapi sikap yang tengah ditunjukkan anak. Ini bisa jadi cara mengendalikan diri dan meredakan ketegangan lebih cepat dari berteriak.

Alih-alih menerapkan hukuman yang dibuat-buat, biarkan hasil di dunia nyata menjadi pelajaran untuk anak. Contohnya, jika anak lupa mengerjakan PR, Anda bisa sesekali membiarkannya mendapat konsekuensi secara alami berupa hukuman dari guru.
Lalu, contoh lainnya, jika anak merusak mainan, biarkan mereka mendapati kenyataan takkan memiliki mainan itu lagi. Konsekuensi secara alami akan terasa lebih adil dan membantu anak-anak mengubungkan tindakan mereka. Alhasil, penerapan sikap disiplin bisa dilakukan tanpa drama.

Anak-anak akan berkembang jika mereka tahu apa yang diharapkan. Tetapkan aturan yang sederhana dan sesuai usia. Lalu, patuhi aturan tersebut.
Bersikaplah konsisten, jangan kaku, dan berubah-ubah sesuai konteks. Anda tidak boleh terpengaruh dengan suasana hati. Disiplin akan membantu anak merasa aman. Si kecil juga tidak mudah melampaui batas.

Berikan anak-anak rasa kendali dalam batasan. Daripada memerintah anak, Anda bisa memberinya pilihan terbatas. Contoh, jika terbiasa memberi perintah kepada anak secara langsung, seperti “Pakai sepatumu!”. Orangtua bisa menggantinya dengan memberi pilihan, seperti “Kamu mau memakai sepatu merah atau biru?”.
Pilihan akan menghindari perebutan kekuasaan. Orangtua pun bisa meningkatkan kerja sama dengan anak tanpa mengorbankan ketetapan yang ada.

Anda bisa memvalidasi perasaan anak lebih dahulu, sebelum membicarakan soal aturan yang ditetapkan. Orangtua bisa menggunakan kata-kata, seperti “Ibu mengerti kalau kamu marah,”. Sebab, anak-anak ingin merasa didengarkan.
Mengakui emosi tidak berarti memaafkan perilaku buruk. Cara ini bisa membuat orangtua menunjukkan bahwa Anda menghadapinya dengan pendekatan perasaan lebih dahulu, sebelum mengarahkannya secara logis.
(Djanti Virantika)