"Karena kalau pelepasan obat terjadi di lambung, ini bisa berisiko pasien jantung atau stroke mengalami perdarahan lambung atau tukak lambung akibat iritasi asam asetilsalisilat," kata Valisa.
"Makanya, sediaan asam asetilsalisilat untuk pasien jantung atau kronis dimasukkan ke dalam golongan obat keras, karena pemakaiannya jangka panjang dan perlu pengawasan dokter," ujarnya.
Valisa menekankan bahwa kalau sampai asam asetilsalisilat yang untuk pasien lambung diganti dengan Bodrexin, Inzana, atau Contrexyn, ini sangat tidak tepat.
"Ini harus menjadi perhatian pemerintah, bagaimana stok kebutuhan untuk sediaan asam asetilsalisilat yang bentuk enteric tetap terpenuhi," katanya.
Jadi, meskipun indikasinya sama, tapi risiko perdarahan atau iritasi lambung akan semakin besar jika Bodrexin, Inzana, atau Contrexyn diberikan ke pasien jantung atau stroke. Banyak juga, kata Valisa, pasien intoleransi asam asetilsalisilat yang tanpa salut enterik.
Di sisi lain, Valisa menambahkan, rumah sakit juga bingung kalau stok miniaspi atau thrombo aspilet habis di distributor. Sebab, rumah sakit harus tetap memberikan antiplatelet ke pasien.
"Kalau dikasih antiplatelet jenis lain, harus dilihat juga beberapa kondisi dari sisi kondisi pasien dan klaim BPJS Kesehatan," kata Valisa.
(Leonardus Selwyn)