RAMAI di media sosial seorang pria mengaku diberikan Bodrexin sebagai pengganti obat pengencer darah oleh pihak rumah sakit tempatnya berobat. Apakah tindakan tersebut tepat?
Video pertama kali dibagikan akun TikTok @benkys76 dan hingga berita ini dibuat, sudah lebih dari 756 ribu kali ditonton netizen. Di video viral itu, pria tersebut mengatakan kalau pihak rumah sakit mengganti obat pengencer darah dengan Bodrexin karena stoknya habis.
"Gara-gara obat pengencer darah habis di rumah sakit, diganti Bodrexin sama pihak rumah sakit. Gimana, ya, ini, yah? Bodrexin tuh, buat satu bulan," kata pria yang membuat konten video, dikutip MNC Portal, Kamis (11/7/2024).
Konten tersebut ramai sekali dibahas di media sosial. Salah seorang yang mengaku apoteker memberi komentar atas video itu.
"Halo, izin berkomentar, ya, kakak. Saya apoteker klinis. Bodrexin berisi asam asetilsalisilat dengan dosis 80mg, isinya sama dengan pengencer darah dengan merk aspilet atau miniaspi 80mg," tutur akun TikTok Akugajaah.
Hal senada juga disampaikan akun TikTok Apotek Anggun Bekasi, "Kandungan (obat pengencer darah dengan Bodrexin) sama." Pun juga komentar Apt. Rian Nurdiana, "Sama saja itu. Sama-sama aspirin."
Tapi, Health Educator Valisa di akun X @valiisaa menjelaskan adanya perbedaan di antara Bodrexin dan obat pengencer darah pada umumnya. Apa katanya?
Valisa menjelaskan bahwa benar Bodrexin itu mengandung Asam Asetilsalisilat. Kandungan tersebut digunakan untuk anti-pembekuan darah, antinyeri, antiinflamasi, dan antipiretik atau penurun panas. Tapi, dalam dunia farmasi itu ada beberapa indikasi khusus dari obat, seperti pada pasien jantung atau pasien stroke.

"Asam Asetilsalisilat digunakan sebagai pengencer darah atau antiplatelet. Kalau pada pasien anak digunakan untuk menurunkan demam atau mengurangi nyeri dan sakit gigi," tutur Valisa.
"Pembagian indikasi ini sudah diatur oleh pemerintah," katanya.
Dia melanjutkan, penggolongan obat juga didasarkan pada indikasi dari obat tersebut. Bodrexin sendiri, kata Valisa, diindikasikan untuk pereda sakit gigi dan penurun demam pada anak, sehingga digolongkan sebagai obat bebas atau lingkaran hijau.
Sedangkan untuk pasien jantung atau stroke, asam asetilsalisilat digolongkan sebagai obat keras, karena perlu pemantauan dokter dalam jangka waktu konsumsi yang lama.
"Jadi, meskipun isinya sama, tapi tujuan indikasi penggunaannya antara Bodrexin, aspilet, miniaspi, thrombo aspilet itu berbeda," ujar Valisa.
Di penjelasan Valisa juga diketahui bahwa Bodrexin, Inzana, atau Contrexyn itu dibuat rasanya tidak pahit supaya anak mau mengonsumsinya.
"Kan kalau pahit anak gak mau minum obat, ya," tuturnya.
Dan Bodrexin, Inzana, atau Contrexyn itu penggunaannya dengan dihisap, supaya bisa lebih cepat masuk ke pembuluh darah dan demam atau sakit gigi anak lebih cepat berkurang.
Sedangkan untuk pasien jantung, penggunaan asam asetilsalisilat dibuat bentuk enteric coated tablet atau tablet salut enterik. Dengan sediaan itu, diharapkan asam asetilsalisilat dapat pecah di usus, bukan di lambung.
"Karena kalau pelepasan obat terjadi di lambung, ini bisa berisiko pasien jantung atau stroke mengalami perdarahan lambung atau tukak lambung akibat iritasi asam asetilsalisilat," kata Valisa.
"Makanya, sediaan asam asetilsalisilat untuk pasien jantung atau kronis dimasukkan ke dalam golongan obat keras, karena pemakaiannya jangka panjang dan perlu pengawasan dokter," ujarnya.
Valisa menekankan bahwa kalau sampai asam asetilsalisilat yang untuk pasien lambung diganti dengan Bodrexin, Inzana, atau Contrexyn, ini sangat tidak tepat.
"Ini harus menjadi perhatian pemerintah, bagaimana stok kebutuhan untuk sediaan asam asetilsalisilat yang bentuk enteric tetap terpenuhi," katanya.
Jadi, meskipun indikasinya sama, tapi risiko perdarahan atau iritasi lambung akan semakin besar jika Bodrexin, Inzana, atau Contrexyn diberikan ke pasien jantung atau stroke. Banyak juga, kata Valisa, pasien intoleransi asam asetilsalisilat yang tanpa salut enterik.
Di sisi lain, Valisa menambahkan, rumah sakit juga bingung kalau stok miniaspi atau thrombo aspilet habis di distributor. Sebab, rumah sakit harus tetap memberikan antiplatelet ke pasien.
"Kalau dikasih antiplatelet jenis lain, harus dilihat juga beberapa kondisi dari sisi kondisi pasien dan klaim BPJS Kesehatan," kata Valisa.
(Leonardus Selwyn)