PERHIMPUNAN Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI) menggelar acara Indonesian Occupational Medicine Update (IOMU) 2024, di JS Luwansa Hotel Jakarta. Lewat acara tersebut Ketua Umum PERDOKI, Dr dr Astrid B. Sulistomi, MOH, Sp. Ok, Subsp. NioKO(K) menjelaskan pentingnya perusahaan melakukan kolaborasi bersama Rumah Sakit.
Hal itu lantaran tingginya angka kecelakaan kerja yang saat ini masih terus meningkat. Dokter Astrid mengatakan kondisi ini dipicu karena kurangnya kesadaran perusahaan atau Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih menganggap sepele.
“Kalau dilihat dari jumlah perusahaan yang ada, nah itu pada umumnya masih kurang, mereka menganggap menempatkan dokter di perusahaan atau melakukan penggerak K3 itu lebih melihatnya sebagai cost ya atau biaya,” kata dr Astrid saat ditemui dalam sela acara Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-16 PERDOKI, di JS Luwansa Hotel Jakarta, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, beberapa perusahaan masih belum memperhitungkan dengan baik adanya dokter okupasi. Alhasil perusahaan yang harusnya bisa mendapatkan keuntungan, justru malah bisa mendapat kerugian.
“Perusahaan tidak memperhitungkan bahwa itu sebenarnya juga investasi dengan memiliki dokter okupasi tapi pekerjanya sehat. Akhirnya kan produktif dan akhirnya menguntungkan perusahaan juga,” ucap dr Astrid.
Berbeda lagi dengan perusahaan-perusahaan besar, dr Astrid mengatakan perusahaan besar sudah mulai menerapkan adanya dokter okupasi di lingkungan kerja mereka. Sehingga membuat kondisinya menjadi lebih baik dan perusahaan menjadi lebih mudah untuk menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di lingkungan kerjanya.
Akan tetapi, dr Astrid menyarankan apabila perusahaan merasa takut mendapatkan kerugian dengan adanya peraturan setiap perusahaan harus memiliki satu orang dokter okupasi, maka kerja sama dengan rumah sakit adalah cara terbaik.