FASILITAS medis terbesar di Gaza bagian selatan disergap pasukan Israel setelah dibom berhari-hari. Dokter umum Rumah Sakit Nasser, dr. Hatem Raba mengungkapkan para tenaga kesehatan, pasien, dan pengungsi terkepung tanpa persediaan makanan.
Sejak penyerbuan militer IDF ke Rumah Sakit Nasser, sedikit tim medis yang bekerja untuk melayani kebutuhan pasien. Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina dr. Ashraf Al-Qidra, saat ini tersisa 11 dari 36 jumlah pusat kesehatan berfungsi di Jalur Gaza.
Dokter Hatem Raba merasa kelelahan sebab hanya ada lima staf yang bekerja di Rumah Sakit Nasser. Sementara itu, jumlah pasien bertambah setiap hari, yakni sekitar 150 orang. Situasi di Gaza berada dalam bencana besar.
“Sudah satu minggu pasukan Israel mengepung, kami terjebak tanpa stok makanan dan air. Rumah sakit kekurangan sumber penerangan, oksigen, dan pemanas untuk pasien,” ucap dr. Raba dalam telepon bersama CNN, Jumat (23/2/2024).
Selama pengeboman yang tak kunjung berhenti di daerah Gaza selatan, IDF mengaku telah menangkap ratusan militan teroris. Menurutnya, Hamas bersembunyi di dalam Rumah Sakit Nasser dan menggunakan label obat-obatan dengan nama para tawanan Israel.

Meski demikian, Kemenkes Gaza membantah pernyataan IDF dan mengatakan bahwa rumah sakit hanya menyediakan layanan kesehatan untuk warga sipil. Lebih lanjut, seluruh tenaga kesehatan RS Nasser juga dievakuasi selama berjam-jam di bawah cuaca dingin.
“Pekan lalu, pasukan Israel menggerebek dan memerintahkan seluruh tim medis meninggalkan rumah sakit. Setelahnya, mereka (IDF) memaksa staf membuka pakaiannya, serta dibiarkan menunggu dalam cuaca dingin. Kejadian itu sangat memalukan bagi saya,” tuturnya.
Hingga kini IDF belum menanggapi kebenaran dari para saksi, tetapi terdapat laporan serupa dari rumah sakit lain. Sementara itu, Kemenkes Gaza menyatakan setidaknya 70 tim kesehatan ditangkap dan 80 pasien dibawa tanpa diberitahukan lokasi pemindahannya.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA), Selasa 20 Februari 2024 telah bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS). OCHA bertugas mengangkut dan mengevakuasi 21 pasien dari Nasser menuju Rumah Sakit Lapangan.
“Hanya lima dokter yang diizinkan kembali ke rumah sakit, termasuk saya. Kesehatan warga sipil di Gaza semakin memprihatinkan, saya sudah meminta militer Israel mengevakuasi pasien mendapatkan perawatan medis, tetapi mereka menolak,” tuturnya.