SEORANG digital nomad bekerja dari lokasi manapun dan menggunakan teknologi untuk melakukan pekerjaan mereka saat berpindah ke tujuan baru.
Mengutip Tech Target, beberapa pekerja ini tinggal di satu area selama beberapa minggu atau bulan sebelum pindah ke lokasi baru.
Namun, ada juga yang memilih untuk sering berpindah kota atau negara dan bekerja di kedai kopi, kafe, perpustakaan, pesawat, kamar hotel, ruang kerja bersama, atau di mana saja yang memiliki koneksi Wi-Fi.
Gaya hidup digital nomad memungkinkan dengan adanya akses internet, smartphone, dan voice over IP untuk menelepon klien.
Pertumbuhan ekonomi pertunjukan dan kreator telah menciptakan lapangan kerja bagi pekerja independen yang tidak ingin terikat pada satu lokasi tertentu. Para pengembara ini menggunakan pekerjaan jarak jauh untuk membiayai perjalanan mereka.
Selama pandemi, banyak orang beralih ke pekerjaan jarak jauh, dan pengunduran diri besar-besaran pun dimulai.

Orang-orang yang berhenti dari pekerjaannya memilih untuk mencari pekerjaan yang menawarkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Tempat kerja yang toxic menjadi alasan utama orang ingin bekerja jarak jauh dan memiliki fleksibilitas dalam karier mereka.
Nyatanya, banyak peluang bagi seorang digital nomad untuk menjalankan berbagai pekerjaan dari jarak jauh.
Pekerjaan ini umumnya dilakukan secara online dan membutuhkan sedikit peralatan. Berbagai contoh pekerjaan yang cocok untuk nomaden digital termasuk manajer proyek, penulis naskah, editor, desainer grafis, guru atau tutor online, editor, dan lainnya
Dengan semakin banyaknya orang yang bekerja dari rumah, istilah-istilah trendi pun bermunculan seperti bleisure dan digital nomad.
Orang-orang menyadari bahwa jika mereka dapat bekerja dari rumah, mereka dapat bekerja dari mana saja dengan koneksi internet yang dapat diandalkan. Namun, ada beberapa perbedaan antara digital nomad, kerja remote, dan bleisure traveler.