KANKER serviks merupakan kanker kedua yang paling umum terjadi pada perempuan di Indonesia. Meski demikian, kebanyakan perempuan terdiagnosis kanker serviks ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Padahal, jika pengobatan dilakukan pada stadium ini maka akan menjadi kurang efektif. Akibatnya sebanyak 50 Persen perempuan yang terdiagnosis bisa meninggal dunia karena penyakit tersebut.
Menyikapi kondisi itu, Wakil Menteri Kesehatan RI, dr Dante Saksono Harbuwono menjelaskan salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan deteksi dini atau skrining sedini mungkin, sehingga angka kematian juga dapat ditanggulangi.
“Salah satu penyebab kematian tertinggi untuk kanker wanita di Indonesia adalah kanker serviks. Skrining kanker serviks sebagai salah satu modalitas utama untuk menanggulangi tingginya kematian kanker serviks di Indonesia,” kata dr Dante, dikutip dalam keterangan resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Minggu (4/2/2024).

Lewat Kemenkes, pemerintah melakukan upaya strategi dalam mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan melakukan vaksinasi HPV kepada anak-anak perempuan usia sekolah dan melakukan skrining deteksi kanker serviks sedini mungkin untuk perempuan masyarakat Indonesia.
Tidak hanya itu, pemerintah juga sudah mulai melakukan pilot project vaksinasi HPV gratis di sekolah-sekolah Jakarta, ditambah melakukan treatment atau perawatan pada kanker serviks di Indonesia.
Pada prioritas aksinya, skrining kanker serviks akan ditargetkan sebanyak 75 Persen dari total seluruh perempuan berusia 30-69 tahun. Skrining ini menggunakan metode pemeriksaan DNA HPV yang memiliki kualitas mutu terjamin.