ROMBONGAN wisatawan asal Surabaya, Jawa Timur sempat menjadi perbincangan di media sosial usai berwisata di Pantai Ngliyep, Malang.
Sebab wisatawan ini sempat membawa power bank lampu hias pantai milik pengelola pantai yang ada di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang.
Akibat perilaku ketujuh wisatawan ini, pengelola wisata merugi lebih dari Rp500 ribu. Sehingga mereka berkoordinasi dengan Polsek Donomulyo untuk melacak keberadaan para wisatawan nakal ini.
Kepala Unit Pantai Ngliyep Perumda Jasa Yasa, Wijang Erlangga mengungkapkan, jika mereka terus menelusuri identitas wisatawan yang telah merugikan mereka dengan tidak membayar paket wisata yang dipesan oleh wisatawan tersebut.
Awalnya mereka melacak jika nama pemesan paket wisata camping Pantai Ngliyep adalah Muhammad Faisol, namun diketahui ternyata nama tersebut adalah nama palsu.
(Foto: Instagram/@pantaingliyepmalang)
Kemudian mereka berhasil melacak 3 orang dari 7 orang wisatawan asal Surabaya tersebut pada Selasa, 2 Januari 2024.
"Kami menemukan salah satu akun Facebook dan Instagram aslinya, kami berusaha menghubungi meskipun akunnya sudah privat. Kemudian kami menelusuri kembali dan ketemu 2 akun temannya (laki-laki dan perempuan) yang ikut ke Pantai Ngliyep kemarin," ucap Wijang Erlangga, saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (7/1/2024).
Selain menemukan akun media sosial mereka, Jasa Yasa juga mendapatkan dokumen pribadi mereka. Diketahui mereka bekerja di Surabaya. Namun meski telah dikantongi dokumen pribadi dan jadi perbincangan di media sosial, wisatawan ini sempat enggan kooperatif.
Bahkan beberapa kali sudah dihubungi untuk mengembalikan barang dan membayar paket wisata yang mereka pesan, tapi mereka cuek saja.
"Hasil penelusuran itu sempat kami kirim ke pelaku, tapi tetap tidak ada tanggapan. Mereka sepeti ogah-ogahan mempertanggung jawabkan perbuatannya," ungkapnya.
Sehingga mau tidak mau Perumda Jasa Yasa menghubungi HRD tempat mereka bekerja. Ternyata Wijang memiliki koneksi dengan HRD tempat salah satu pelaku bekerja, sehingga laporan ini dilaporkan ke atasan di mana perusahaan pelaku bekerja.
"Saya disambungkan melalui telepon ke pelaku, saya minta agar peralatan kami dikembalikan dan mereka membayar biaya paket wisata. Awalnya mereka beralasan sibuk bekerja sehingga tidak bisa ke kantor Perumda Jasa Yasa, tapi kami jelaskan jika mereka tidak akan kami apa-apakan," jelasnya.
Setelah melalui perbincangan melalui telepon, akhirnya wisatawan asal Surabaya tersebut mau membayar biaya paket wisata tersebut. Mereka juga meminta maaf atas perbuatan yang telah dilakukannya.

"Kalau untuk power bank, mereka mengakunya tidak sengaja terbawa. Dan baru sadar saat sudah sampai di Surabaya," kata dia.
Wijang memastikan, jika kasus ini telah berakhir damai dan tidak dilanjutkan ke jalur hukum. Namun dirinya mengingatkan agar kasus ini jangan sampai terulang. Wisatawan diimbau lebih bijaksana dan jaga etika saat datang ke tempat wisata manapun.
(Rizka Diputra)